Bismillah..
Meski sudah hampir beranjak pada bulan yang lain, kini kita masih berpijak pada bulan Rabbiul Awwal, bulan di mana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam, kekasih-Nya yang mulia dilahirkan. Bulan ini mungkin lebih banyak memberikan refleksi pada kita, sudahkah kita menjadi ummat yang mencintainya? Sudahkah Allah dan Rasul-Nya menjadi yang paling kita cintai di atas segala kecintaan?
Meyakini bahwa menalaudaninya sebagai bukti kecintaan, tentu perlu dibekali dengan memahami shirohnya. Lalu sudahkah kau pahami sirohnya, Nis? :’(
“Jadi, gimana kesimpulannya, Buk Nisa?”
“Hah?”, saya cuma bisa ngaplo.
Ini kejadian jumat lalu ba’da sholat subuh berjama’ah. Saat kami di kontrakan membahas selembar shiroh nabawi, saya malah tertidur. Padahal banyak ibrah yang bisa dipetik dengan mempelajari shiroh nabawi, sebagaimana kisah-kisah para nabi terdahulu yang diceritakan kepada Rasulullah melalui firman-Nya yakni adalah digunakan untuk dijadikan pelajaran, peneguh, dan penegar..
Pelajaran tentang mengadu hanya kepada Allah semata, sebagaimana yang dilakukan oleh Nabi Ya’qub, sang mukmin sejati. Bahwa beliau mengadukan apapun hanya kepada Allah dan apa pun yang diadukan bukan orang lain (kedzaliman orang lain), melainkan kelemahan dirinya sendiri. Juga peneguh hati, karena panjangnya jalan dakwah, sebagaimana Nabi Nuh yang berdakwah selama ratusan tahun lamanya dengan pengikut yang tidak banyak. Juga pelajaran ketegaran dari track record Nabi Musa.
Siroh-siroh tersebut mengajarkan pada kita untuk tetap tegar di jalan dakwah, bagaimana pun kondisinya. Jangan sekali-kali menyikapi shiroh dengan ungkapan, “Itu kan Rasul… Nabi… bukan manusia biasa kayak kita.” Ckckck.. Kalau disikapi seperti ya nggak akan ada kemajuan dalam diri kita. Pahami bahwa mereka dan kita adalah sama-sama manusia (dalam konteks mengambil pelajaran).
Coba perhatikan secara keseluruhan kondisi yang dialami oleh para sahabat dan shahabiyah, ada suami-istri yang sholih-sholihah seperti Rasulullah dan bunda Khadijah, mereka berada di tengah-tengah orang sholih dan memiliki keturunan yang sholih pula. Namun, ada kondisi ibu Asiyah yang sholih tetapi memiliki suami yang kafir si raja Fir’aun. Bahkan, jika kau ingat kisah Siti Maryam yang tidak punya suami sekali pun. Saksikanlah, bahwa segala macam kondisi takkan menghalangi seseorang dari kemuliaan, asal tetap dalam balutan keimanan.
Shiroh juga menyajikan karakteristik para sahabat, Abu Bakar memiliki karakter lembut tapi teguh. Umar bin Khatab yang tegas namun berhati lembut dan penyayang. Ustman bin Affan yang pemalu, juga Ali bin Abi Thalib yang periang. Sekali lagi, mereka itu, semua keadaannya adalah kemuliaan.
Lewat shiroh
Kita petik ibroh
Pelajari metode dakwah
Semoga mulai hari ini, esok, dan seterusnya.. Saya lebih bersemangat lagi mengeja kisah-kisah para nabi dan rasul, hingga dapat menalaudani langkahnya.. Bismillah.

perlu dibaca dan dipelajari shiroh nabawiyah ini.,,,
makasih mba telah mengingatkan…
sangat perlu pak, siipp!!
itu bacaan favorit saya nomor 1
Alhamdulillah.. Siipp, saudaraku!
kemarin ndak jdi tak ambil buku e -_-a
lupa
R3W nya sudah ada ?
insyaAllah lain kali sebelum/pas pulang, aku kabari syah..
yap, saya tunggu. hehe