. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Damai itu Menyenangkan

on 22 January 2009

stargate631

Seperti biasa, sepulang sekolah di hari Sabtu saya bermain ke rumah sahabat saya yang jaraknya hanya beberapa meter dari rumah saya. Waktu itu kami masih kelas 3 SD -kalau tidak salah-. Selain itu, sahabat saya yang lain yang baru TK nol besar -kalau tidak salah juga J- juga datang. Selain kami bertiga, ada juga adik sahabat saya -pemilik rumah- yang ikut bermain, usianya baru 3 tahun -kalau tidak salah lagi…^^-. Waduh.. maaf, salah mulu.. saya tidak ingat dengan jelas, kejadian ini kami alami di tahun berapa….
Sewaktu lagi enak-enaknya bermain, si adek keluar rumah untuk membeli sesuatu, walau dia masih sangat kecil dia sangat giat dan tegas, mungkin terkadang saja saya melihat dia menangis saat bertengkar dengan kakaknya.
“Hua… hhu… hu..hhh…”, tangis si adek sekembalinya dari luar rumah. “Kenapa,Dik?”, kami bertiga langsung menenangkannya. “Aku dilempari batu sama anak-anak itu…”, jawabnya sambil menuding ke arah -seingat saya- 3 anak laki-laki yang sedang duduk-duduk di dekat situ. Yah, si adek emang sering diganggu ma mereka!!
Sekadar info niy, sewaktu saya masih SD, di kampung saya ada “genk” anak-anak cowok itu dan “genk” kami. (Halaaahh…! Cilik-cilik genk2an!! Bukan…maksud saya ya cuma kami tidak pernah bersatu dan bermain bersama, antara yang perempuan dan yang laki-laki,,, xixiixii..).
*kembali ke topik*
“Eh,, anak-anak itu ya?! Udah, jangan nangis, ntar biar mereka aku laporin ke Bapak.”, Kata sahabat saya berusaha menenangkannya. “Kita suruh mereka minta maaf aja, yuk..”, kata teman saya yang masih TK. “Ya! Dan gak boleh mengulanginya lagi, tentunya! Adek tenang aja! Ada kami di sini.”, sahut saya dengan penuh semangat. Kami bertiga mendatangi anak-anak itu dan menyampaikan misi tersebut. Sialnya, iktikad baik ini malah disambut gak ngenakin. Kami kembali dengan wajah kecut.
“Aduh, kok gitu sih mesti?!”, keluh sahabat saya. “Kita coba lagi yuuk…”, ajak saya. Kali kami mengajak bicara dengan nada sedikit kesal atas perbuatan mengganggu mereka. Mereka malah ngetawain dan ikutan panas. Salah satu anak yang dikenal paling nakal di antara mereka berkata pada kami, “Opo e, ngono thok ae mosok wes nangis!” (Apaan sih, gitu aja masa udah nangis). Saya jadi ikutan panas juga, “Lha awakmu iki lho, gak ngerti yokpo rasane lek dadi arek sing diganggu! Opo maneh arek cilik sing maeng disawati watu! Kenemenen!!” (Kalian ini tidak tahu bagaiman rasanya menjadi anak yang diganggu, apalagi anak kecil, yang tadi dilempari batu! Kebangeten…!). Mereka pecundang, batin saya.
Yak, suasana makin memanas. “Ngajak gelut a? Lek koen menang, kene baru gelem njaluk sepuro!”(Ngajak berantem ya? Kalau kalian menang, kami baru bersedia minta maaf), eh…mereka nantangin kami!! “Iyo, ayo!! Sopo sing wedi!!” (Baiklah, ayo!! Siapa takuut…!!), Wah… kami juga gambang banget dikomporin, kecuali sahabat saya kakaknya si adek sempat ragu dan khawatir kalah. Tapi saya PD banget ngomong ke dia, kalau kita gak akan kalah!! Heu… dia ikutan nerima tantangan. (Padahal, di dalam hati saya juga deg-deg an aslinya.. mwehehehh,, nge-sok keren! Fuh…).
Berangkat!! Kami berlari menuju rumah masing-masing mengambil sepeda roda dua dan tancap gas menuju medan pertempuran!! Begitu juga dengan geng begundal, mereka melakukan hal yang sama!!
Medan pertempuran berada di sisi lain RT kami yang sepi penduduk. “Majuuu…..”. Kami saling pukul dan tendang!! (Gak nyangka pernah lakukan ini, piissss!! Cuma kegejean pas MI, khukhukhuu).
Ternyata…. baru 5 menit aja, genk begundal takut dengan kenekatan kami. Mereka melarikan diri melalui jalan tikus yang susah dilewati sepeda! Saya akui, mereka lebih mahir bersepeda daripada kami. Kami pun berpencar, salah satu dari kami berputar arah. Teman saya yang masih TK saya minta menjaga sepeda kami. Saya pun berlari sekuat tenaga mengejar seseorang di antara mereka yang paling tua usianya.
Sampailah kami di rute tikus laen yang ramai penduduknya!
“Uwes, uwes, Mbak… aku gak wani maneh…”, dia menyerah saat saya berhasil menarik bajunya dan mengancam akan memukulnya!! Sejenak kemudian saya sadar, di sekeliling kami sudah ada banyak warga yang sepertinya sudah lama berada di situ. Mereka hanya melihat, tanpa melerai. Tapi saya yakin, pasti kejadian ini sudah dilaporkan dari tadi. Lalu datang ibu si anak tadi, menyudahi perkelahian gak jelas ini. Anggota kelompok kami dan genk mereka juga tiba-tiba sudah berkumpul di situ. Ada beberapa diantara orang tua mereka yang melerai. ^Untung gak ada ortu saya pas itu, xixiiixii^. *Nakallll…*
Tiba-tiba mereka minta maaf dan kami pun melakukan hal yang sama. Saling meminta maaf, saling memaafkan pula. Dalam hati saya tertawa geli, cepat sekali hal ini terjadi. ^^
Mereka kami ajak menemui adek yang sering diganggu untuk meminta maaf. Mereka pun berjanji tidak akan nakal lagi.
Esoknya,, seusai shalat ashar, bersama kakak saja juga (yang suka ngajari kami permainan aneh2, hihihii..pisss kak!), kami bermain di sawah di sore hari. Dari kejauhan tampak anak-anak yang kemarin! Mau apa lagi mereka?! Hehe.. jangan berburuk sangka dulu, ternyata mereka mau IKUTAN BERMAIN!!! Kami berdelapan -kalo gak salah- menyusuri jalan setapak yang ada di sawah. Meloncati got-got kecil dan bermain perang-perang an di atas jerami…. bermain, tertawa bersama. Hingga senja tiba.. kami pandangi indahnya pemandangan ini, sambil merebahkan badan di atas jerami.
Alhamdulillah…. damai itu indah, damai itu menyenangkan!! Kami tak pernah lagi bertengkar, hanya terkadang saja saling usiill.. Biasa.. anak kecil, anak SD. Geje….
hehe… *Lagu kepompongnya Sind3ntosca turn on*

Don’t try this at home. Yang berkelahi tadi mohon jangan ditiru! Gak baik…!! Perbuatan tidak terpuji!! Ada solusi yang lebih baik dari berkelahi. Dungu banget waktu itu mau-maunya diajak berantem. Untung saja tidak terjadi hal yang tidak diinginkan. Pokoknya, jangan ditiru, plisss…. Jangan ada yang berantem!! Yang ditiru saling minta maafnya aja ya… ^^ Sekali lagi.. damai itu indah, damai itu menyenangkan!! (Bukan mengenyangkan loh…)

Sedikit curhat : Apakah ini jadi postingan terakhir saya di bulan-bulan sibuk ini?! Exam2 detected!! Saya mohon doanya… saya mohon maaf atas segala kesalahan.. maafkan saya… terima kasih pada sahabat-sahabat saya yang berkenan mengisi hari-hari liburan saya dengan nasehat-nasehat dan inspirasi yang sangat berharga,, liburan semester saya sudah hampir usai. Saya tidak boleh takut menghadapi yang ada di depan mata…. Bismillaahirrahmaanirrahiim…
Sekali lagi,, maaf.. dan terima kasih… ^^

Salam damaii…

Wassalamu’alaikum….


4 responses to “Damai itu Menyenangkan

  1. JREENG!! cp yak yang MAS,,?! owh… ditujukan ke pak Heri y mas?!
    kirain ke sinna,😉

    iyo, damai it indah,,
    ada dendam it gak enak, nyumpek2i ati…

    Like

  2. cenya95 says:

    hmmm… skip reading… yo Mas,😀
    dan bacanya dalam damai.
    memang damai itu menyenangkan tapi damai itu indah dan cantik.

    Like

  3. hihihi..
    saya jg biasany ky gt, :p

    disimpen dulu pas ngenet, mbacany di rumah,,

    :mrgreen:

    *waduh, siap2 maluu, dibaca sama pak guru* hehe,🙂

    Like

  4. heri says:

    komen dulu baca belakangan:mrgreen:

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: