. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Hafalan Shalat Delisa

on 14 August 2009

Sebelumnya maaf kalau sudah banyak yang baca. Ini novel lama, tapi saya ingin review ^_^v. Sekadar tepekur dan belajar…

delisa^^

Hafalan Shalat Delisa. Novel buah karya ~tere~liye~ ini bagus sekali. Menceritakan tentang hafalan shalat anak berumur 6 tahun yang sangat menggemaskan, Delisa namanya. Kisah ketulusan yang sungguh menyentuh dengan Tsunami sebagai latar belakangnya.

Dan semua itu sungguh dekat dengan keseharian kita… dekat..

…Dekat…

Seperti keluarga bersahaja yang senantiasa bangun pagi sebelum adzan subuh, lalu berjama’ah menunaikan shalat. Aku menangis, malu. Terkadang saya punya fase ‘kelelahan’, hingga sulit membuka mata, hingga jengkel Ibu saya membangunkan. T_T Ampuni hamba Ya Allah… saya ingin bangun pagi-pagi sekali setiap hari, secara otomatis..

Seperti Kak Aisyah yang akhirnya menyesal atas kecemburuannya pada kalung Delisa. Ia ingat kata Pak Guru Jamal di sekolah, Sungguh saudara-saudara kita akan menjadi tameng api neraka. Maka berbuat baiklah kepada mereka. Sungguh adik-kakak kita akan menjadi perisai cambuk malaikat. Maka berbuat baiklah kepada mereka. Sungguh saudara-saudara kita akan menjadi penghalang siksa dan adzab himpitan liang kubur. Maka berbuat baiklah kepada mereka.

Dan aku kembali menangis, sudahkah aku berbuat baik pada mereka…?

Seperti saat Delisa menyatakan cinta pada orang yang ia sayangi. Delisa cinta Ummi karena Allah. Delisa cinta Abi karena Allah. Menyentuh sekali, saya bahkan mungkin tak pernah nyatakan itu… T_T

Seperti saat Delisa siap menyetorkan hafalan shalatnya di sekolah. Saat Gelombang Tsunami itu tiba.. 26 Desember 2004! Delisa berusaha khusyuk, ia meneruskan praktik sholatnya walau gempa berkekuatan dahsyat mengguncang Lhok Nga. Delisa ingin menyempurnakan sujudnya, walau tubuh mungilnya telah sempurna terbalut gelombang. Air di mana-mana. Ia ingin sujud…

Saya terus menangis… begitu mengharukan… Akankah saya lakukan hal yang sama seperti Delisa? Tetap sholat tatkala berselimut Tsunami? Atau menghambur membatalkan shalat dan berlarian panik? Saya berusaha merasakan kehadiran saya di tengah gelombang tersebut, bersama tarian kematian. Allahu Akbar…

Seperti saat Delisa terkapar dengan lebam dan luka yang hampir membusuk di antara reruntuhan dan semak. Bertahan hidup. Delisa selamat. Namun, tidak bagi Ummi, Tiur (sahabatnya), Kak Aisyah, Kak Zahra, dan Kak Fatimah (kakak-kakak Delisa), juga Ibu Guru Nur, Ibu Guru Eli –calon istri Ustad Rahman–, dll. Mereka telah pergi dari dunia selamanya…

Seperti saat Prajurit Salam menjadi seorang mualaf. Subhanallah…

Kita belajar tentang makna kehilangan…

Seperti Delisa yang tak pernah berkeberatan!! Tulus. Delisa tetap ceria meski akhirnya ia harus memakai kurk karena betis kanannya remuk sempurna dan akhirnya diamputasi. Kehilangan. Ya, Delisa kehilangan sebagian kakinya, kehilangan seorang Ummi berhati luas, teman-teman, kakak-kakak yang menyayanginya, gedung sekolah, dan rumah. Ia masih punya Abi. Anak sekecil itu.. merasakan hal yang begitu besar…

Ah… apakah saya juga akan ikhlas menerima seperti itu…??

Semua sentuhan hati ini tak butuh penjelasan. Tak perlu keterangan rumit, mengapa kubiarkan air mata meleleh saat membacanya. Biarkan hati merasakan suasana itu…

…Melelehkan air mata…

Seperti orang-orang dari negeri-negeri jauh yang amat menyayangi Delisa. Kak Cofi, Sersan Ahmed, Prajurid Salam, Mam and Dad Kak Cofi, juga anak-anak umur sebayanya di Inggris.

Seperti Delisa yang menyesal atas kepura-puraannya dahulu. Hadiah hafalan shalat. Kalung itu! Juga hadiah dari Ustad Rahman, cokelat itu! Delisa menyesal…. pemahaman itu menancap begitu saja pada anak usia 6 tahun ini. Delisa sudah tak menginginkan semua itu!! Delisa yang kesulitan menghafal pascatsunami hanya ingin shalat sempurna, Ya Allah…

Seperti saat kecemburuan pada Teuku Umam karena ibunya selamat…

Seperti shalat sempurna Delisa yang pertama, di ashar itu. Di hamparan pantai, bersama Kak Ubai dan teman-temannya…. Delisa terisak pelan usai salam. Subhanallah.. semesta turut berucap salam…

Usai shalat itu, sebelum pulang, Delisa melihat kemilau kuning dekat semak-semak, kalung itu! Kalung separuh harga yang dibeli bersama Ummi pada Koh Acan. Hadiah hafalan shalat Delisa, ada huruf D untuk Delisa. Kalung yang tersangkut di tangan yang sudah menjadi kerangka!! Ummi….

Berjuta rasa berkecamuk di hati Delisa–

*

Novel ini bisa menjadi bahan perenungan. Banyak sekali nilai-nilai yang bisa kita petik pada cerita ini. Tentang keluarga bahagia, anak-anak sholih-sholihah. Tentang persaudaraan. Tentang semangat, cinta, kepolosan, ketulusan, keindahan, kehilangan, kesedihan, kesungguhan, ahh…. tentang perasaan, hati! . Tentang hakikat kehidupan…. , sungguh religius.

Kita juga terbawa berinstropeksi.. mengingat gelimang dosa, memohon ampunan… Kematian.. kita belajar dari kematian…

* * * * *

^^

Mulai besok saya dah di Surabaya… InsyaAllah ospek kelar tanggal 28 Agustus!! Lamaa… banget.. maaf kalau nanti tiba-tiba Nisa menghilang (lagi!)… T_T kebanyakan hiatuss… sampek gemez kali nih blog:mrgreen:.

Maaf… maaf… m(_ _)m .. makin hari saya makin kesulitan onlenn *cry*

^_^ ma’annajaah…


50 responses to “Hafalan Shalat Delisa

  1. elmubarok says:

    kyY bagus cerita novelnya, aku blum prnah baca biasa ‘kuper’ N ‘kudu’ alias kurang duit, tapi coba masksain deh buat beli nieh novel..

    Like

  2. wi3nd says:

    nis,
    baca ini bikin airmataku berurai..
    satu novel yan9 membuatku bercucuran airmata..
    nice novel nis…

    anak sekecil ituh sun99uh luarr biasa,,,

    Like

  3. hanif says:

    Bergetar membacanya…jadi ingat selama ini aku merasa semakin jauh dengan sang Pemberi Hidup

    Like

  4. aji says:

    aji lebih senang main dari pada menghafal,
    gimana caranya biar aji senang belajar ??
    ajarin dong kak…..

    Like

  5. komuter says:

    referensi yang bagus nih…….
    beli ahhhhhh

    Like

  6. phiy says:

    aku belum baca novelnya🙂
    just like u, keknya aku blum bisa berbuat baik buat saudaraku, terutama si adik kedua. berantem mulu sih:mrgreen:

    slamat berjuang di surabaya ya nis😉

    Like

  7. iyah.. buku yang bagus, saya ngeliat buku itu di toko buku kapan hari, pengen rasanya beli, ternyata dompet tak berisi😦

    Like

  8. diazhandsome says:

    belom dibales juga… sama kayak yoan

    Like

  9. cahjoker says:

    cocok untuk yang mau bertobat…,

    Like

  10. Afif says:

    Wah, mahasiswa baru nih..
    Slmt ospek ya !!🙂

    Like

  11. endra says:

    bisakah aku untuk selalu ikhlas…

    Like

  12. elmoudy says:

    kayaknya mang bagus banget.. kisah yg ruarr biasa

    Like

  13. KangBoed says:

    tulisan yang indah.. mari kita melangkah kepadaNYa dalam CINTa

    Like

  14. KangBoed says:

    Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaank
    I Love U fulllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllllll

    Like

  15. pa kabar dek!!
    semakin mantaps postingannya..
    kakak dah balik lagi,
    dah posting juga:mrgreen:

    Like

  16. Wah bagus ni,..
    thx reviewna,..😀

    Like

  17. diazhandsome says:

    buset… 10-nya dipake sama komen pertamax. hahaha…

    menurut KBBI: Hafalan Salat Delisa… bukan ‘Shalat’

    (mengenang dapet nilai 30 gara-gara salah EYD)😦

    Like

  18. vaepink says:

    Makasih buat renungannya yah😉

    Like

  19. nakjaDimande says:

    nisa, resensinya indah..
    hmm, yang abiz writing camp🙂

    nisa sayang, selamat ospek yaaa
    klo senior ada yang galak, lapor sama bundo
    biar bundo marahin..

    Like

  20. Ade says:

    Pengen bisa ikhlas kayak Delisa..

    Like

  21. D3pd says:

    Salam D3pd, mudah2n berguna ya, ^_^…V

    Like

  22. nenyok says:

    Salam
    Hallo De Nisa,wah review bagus nie, jd tertarik baca secara punya e-booknya sudah lama tp lom sempet baca, Thanks ya cantik🙂

    Like

  23. Den Mas says:

    Pengalaman spiritual diimaginasikan dalam realita, pasgi bagus dan hipnotik. Hmmm, harus lirak-lirik neh kalau ke toko buku🙂

    Like

  24. perigitua says:

    haddiirrr….

    hhmm, bagus sekali sepertinya, aku kok lom punya ya..???
    jangan menghilang begitu aja Nis, bikin postingan nyang banyak aja… trus sketjul di publish nya, biar daku tak terlalu merindukanmu…hehehe..
    cu…

    Like

  25. omiyan says:

    bisa jadi bahan inspirasi kehidupan nyata didiri kita

    Like

  26. Assalamu’alaikum,
    Saya belum pernah membacanya, tapi sepintas dari yang Mbak Nisa uraikan, sepertinya ini sebuah novel yang patut dibeli dan dibaca. Selamat ospek ya Mbak, dan selamat menjalankan ibadah puasa Ramadhan, mohon maafkan bila ada salah/khilaf dalam tulisan saya diblog atau komentar2 saya.
    (Dewi Yana)

    Like

  27. ~noe~ says:

    apakah bukunya sebagus isi dan kata-kata dalam resensi ini ?
    rasanya diriku harus memasukkan dalam daftar belanjaan bulan depan. selalu saja ketinggalam beberapa langkah dengan pembaca lain.😐

    Like

  28. genial says:

    saiia justru belum baca loh novel ini🙂 hehehehe… klu semua hanya berisi ‘Tentang keluarga bahagia, anak-anak sholih-sholihah. Tentang persaudaraan. Tentang semangat, cinta, kepolosan, ketulusan, keindahan, kehilangan, kesedihan, kesungguhan, ahh…. tentang perasaan, hati! . Tentang hakikat kehidupan…’ hal2 positif, lalu dimana menariknya novel ini mba’?!??!?

    hal yang menjadi penarik sesuatu terhadap sesuatu kan biasanya yg berbau ‘negatif’ katakanlah demikian…😦

    apa saiia nya yg salah…?!??! heheheheh.. makasih loh uda mampir🙂

    Like

  29. cantigi says:

    keikhlasan memang luar biasa

    Like

  30. hanacaraka says:

    ya ampun ceritanya sedih bgt T_T …review lagi ya cerita yg lain udh kaya di dongengin nih ^^
    ikutan pelatihan bikin web, belajar accessor ma perdalam office yuk murah kok coba aja intip http://hanacharaka.wordpress.com/2009/08/13/bikin-web-belajar-accessor/
    salam kenal

    Like

  31. didta says:

    blogwalking, salam kenal (_ _)

    Like

  32. arkasala says:

    boleh juga neh novelnya ya. enak dibaca dan perlu kayaknya neh. Kebetulan saya suka novel. Trims atas info dan ulasannya. Salam

    Like

  33. bri says:

    __brigakbisa…takutnangiskalau baca__
    ___kamudapetsalam kartini dansalamprestasi___
    _____daribri buatteman_______

    Like

  34. cenya95 says:

    Semoga onlenn trus… biar “cry”mu berhenti.
    salam superhangat

    Like

  35. muhamaze says:

    wah aku belum baca nis.. pinjemin ya… hehe

    wah selamat ya.. jaga kesehatan.. moga2 ospeknya lancar..

    Like

  36. guskar says:

    yup..setuju, buku ini bagus sekali untuk pencerahan hati dan jiwa. rasanya, untuk dibaca di masa kapan pun akan terasa maknanya

    Like

  37. rasyid says:

    ndak papa lah,,, yang penting isinya bermanfaat bagi kita kita,,,

    wah suka meresensi novel yaa?

    Like

  38. omagus says:

    ponakan saya udah punya nis…!
    tapi aku belum baca
    hi hi hi hi..!
    ntar minjem ah jadi tertarik gara-gara nisa nulis review ini..😀

    Like

  39. Nisa says:

    Maaf, gambar bukunya kurang jelas😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: