. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Menerbangkan Kabut Rasa

on 30 December 2009

bismillahirrahmaanirrahiim…

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kegelisahan dan kesedihan, dan aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan bakhil, dan aku berlindung kepada-Mu dari beban hutang dan kesewenang-wenangan orang lain.”

😥

Amiin yaa rabbal ‘alamiin…

*  *  *

Buyar konsentrasiku, layar-layar yang tak kuinginkan penuhi ruang pikirku yang kian menyempit. Kucoba kembali raih pena pun tak mampu. Aku terjerembab dalam buntu tak berujung. Kalau bisa, aku ingin menangis sekarang!

Petang terjun satu persatu, bersama kawanan mendung yang menelan jingga langit. Malam ke sekian di rumah ini, di kampung halaman. Dan aku belum sanggup mengutarakan semua kesah ini pada Ummi dan Buya. Ciut lisanku, buyar kata-kataku.

Malam ini, seharusnya aku mengasah pena bambu dan memenuhinya dengan tinta gelap, sebelum hari itu datang menerkam. Aku tak ingin mengulangi kesalahan lalu, kehabisan tinta di hari pertama mengayuh layar. Namun, yang kulakukan detik ini hanyalah memainkan misi-misi semu dari balik layar laptop, membuang waktu bersama khayal.

Sayup-sayup, ayam jago menampakkan keperkasaannya, kokok di sepertiga malam. Bukan sudah bangun, tetapi memang belum tidur. Bagaimana bisa, sementara saudariku, sedang kesulitan di kejauhan jarak. Kami berada dalam ketidakpastian penyelesaian..

Bola mataku mengerjap, pikiranku semakin tidak tenang, hawa gelisah yang kurasa. Aku semakin tak berdaya. Aku berlari ke belakang, mengucurkan air dari kran dan membiarkannya mengalir melewati lorong selang, melingkupi raga dengan wudhu dan menuju tempat mengadu.

Sulit, masih sulit. Bayang-bayang dunia memecah fokus pikiranku. Kesal…!! Tiba-tiba aku semakin kesal dengan diri sendiri. Segelap dan sekeras apakah hati ini Yaa Rabb… Bahkan untuk menangis karena tidak bisa menangis pun aku tak sanggup. Bagaimana bisa kuucapkan bait-bait permohonan sementara hati ini begitu keruh.😥

wahai Tuhan jauh sudah
lelah kaki melangkah
aku hilang tanpa arah
rindu hati sinar-Mu

wahai Tuhan aku lemah
hilang terumur noda
hapuskanlah terangilah
jiwa di hitam jalanku

Opick – Taubat

*  *  *

Hari ke-8 di rumah, Alhamdulillah…. setelah mengalami kebudregan karena masalah-masalah dan kegejean yang membuat penat dan cekot-cekot, pagi ini saya ‘berhasil’ menceritakan semua pada Ibu dan Bapak *horee!*, dan ternyata lebih mudah dari yang kukira, titik terang bersinar menyirami masalah.

Ternyata berbagi cerita [masalah] itu melegakan… ^^ fiuh…

Dan penatku serasa melayang, berganti kobaran semangat yang melecut-lecut. *hayah*

Kenapa saya lebay banget?

Hehe, karena, sejak dulu saya suka memendam semua dari orang lain. Semuanya. Saat ada masalah, saya selalu bersikap tidak terjadi apa-apa di depan kedua orang tua, lalu menangis di balik pintu kamar.

Saya pikir, kalau saya cerita, beliau-beliau akan marah… Selain itu, saya gak tega mau cerita, bawaannya kok saya ini jadi anak nyusahin muluu… T_T Akhirnya saya putuskan untuk mengunci mulut rapat-rapat dan seenaknya sendiri memberi tenggang waktu pada diri sendiri untuk menuntaskannya. Ada yang selesai, ada yang terlupakan.

“Kalau ada apa-apa diceritakan, Nis… jangan takut. Wong akhirnya juga nggak papa toh…”

“Iya, Nduk… Ibu malah nggak suka kalau rahasia-rahasiaan… Ibu harus tahu semua masalah anak-anaknya”

“Ntar kalau dipendem sendiri, malah jadi penyakit… lha itu… jadi batuk-batuk”😀

Dan saya pun cuma bisa menjawab, “Iya…”, sambil cengar-cengir dan berurai air mata.

Alhamdulillah… Terima kasih, Ya Allah…

.

Ibu malah sedih kalau anaknya tidak mau berbagi kesedihan…

Bu, Pak… Maafkan Nisa ya…

*  *  *

.

Oh, iya.. Sebentar lagi Nisa UAS ^_^

InsyaAllah hiatus dulu, hingga UAS berakhir *sekitar dua minggu-an lah..*

Mohon maaf atas segala salah ya, mohon doanya ya teman-teman… m(_ _)m

Terima kasih😉


43 responses to “Menerbangkan Kabut Rasa

  1. mbak daun says:

    ehemz sebagian do’a robithoh yah..hidup itu pilihan sayang, sejauh mana anti mengambil pilihan yang mungkin orang yang ndak seberapa kenal anti ndak tahu mengapa anti memutuskan mengambil pilihan itu…Yang pasti mengambil keputasan yang terbaik untuk semua…hehe

    aku neh ngomong apa seh, well mbak daun nunut promosi buku yuh ^^v

    http://74.125.153.132/search?q=cache:1HV8laW0q6kJ:blog.re.or.id/free-download-ebook/pdf/kumpulan_doa_dalam_alquran_dan_sunnah_hisnul_muslim_said_bin_waff_alqhatani.pdf.htm+download+hisnul+muslim+indonesia&cd=4&hl=id&ct=clnk

    Like

  2. sampai sekarang saya ngga pernah curhat secara khusus ke seseorang, termasuk ke orang tua saya. karena dari kecil, saya dipaksa bangun ketika jatuh. *arti harfiah beneran.*

    jadi, sampai sekarang pun begitu, selalu berusaha tampil tegar. hh.. kalau capek, saya sering lari.

    betul2 ngga bagus.

    Like

  3. wi3nd says:

    kabutnya kereeeeennnn….🙂

    terbuka den9an oran9 tua itu ba9us nis,jan9an pendam masalahmu sendiri,berba9ilah.🙂

    *jika perlu teman berba9i,insya allah aku siap menden9arkan🙂

    9ood Luck untuk UASnya,semo9a Allah memudahkan ,amien🙂

    Like

  4. cermindiriku says:

    heeee luPa, met UAS JG! do your best, sista.

    Like

  5. cermindiriku says:

    DalEm bgt, nyentuh laGI plus majas ya bikin enak bt di renungi. TOP deh, yuk semangat 3X!

    Like

  6. hmcahyo says:

    horeeee juga😀

    Like

  7. Treante says:

    mungkin iya,,, tapi terkadang juga susah membagi beberapa hal karena beberap[a alasan yang bisa membuat kita kehilangan beberapa hal…

    *ngomong apa ya saia…

    btw, salam kenal🙂

    Like

  8. ilyasafsoh.com says:

    happy new year

    Like

  9. guskar says:

    lega rasa hati setelah semua beban terceritakan kepada org2 tersayang. saat yg paling sulit adalah menumbuhkan keberanian untuk berterus terang.
    setelah semua isi hati terceritakan, masalah2 itu akan jd masa lalu kita

    Like

  10. yoan says:

    wah… abis UAS nisa mau menikah ya? kalau soal pernikahan memang harus dibicarakan dengan orangtua dong, nis…

    *dilempar ember*

    hehehe… good luck ya adikku tersayang… =)

    Like

  11. kink says:

    assalamu’alaykum..
    jadi ingat kampung halaman setelah melihat foto pemandangannya🙂

    Like

  12. Wempi says:

    curhat sama ortu banyak manfaatnya, selain perasaan jadi lega malahan dikasih solusi lagi.

    Like

  13. Siti Fatimah Ahmad says:

    Assalaamu’alaikum

    Ibu bapa selalunya amat perihatin kepada anak-anak. Walau sikap mereka kadang kalanya mungkin tampak keras dlam mendidik, tetapi di hati mereka ada sifat selembut sajlu. Semoga berjaya Nisa’. salam dari Sarikei, sarawak.

    Like

  14. orang tentu ingin yang terbaik bagi anak anaknya

    Like

  15. alamendah says:

    Terbuka kepada orang terdekat saya rasa perlu untuk meringankan segala beban di dalam dada. Saya rasa gak ada yang rugi saat kita berbagi, sekalipun itu beban.

    Like

  16. kawanlama95 says:

    nis terbuka aja denga ortu , kalo ada masalah pasti ada jalan

    Like

  17. arkasala says:

    Selamat menghadapi UAS. Ketika bukan seorang yang termasuk golongan SKS alias Sistem Kebut Semalam, maka UAS akan dianggap bukan sebuah beban.
    Jika masuk golongan SKS itu, maka kita senasib he he.
    Salam hangat selalu🙂

    Like

  18. septarius says:


    Kalo ada masalah ya harus terbuka sama ortu, apalagi kalo uang saku kurang..
    He..he..
    [Pengalaman jd anak kuliahan]

    Met belajar keras, semuga sukses ujianya..😉
    ..

    Like

  19. Jaka says:

    Gud lak buat UAS-nya

    Like

  20. mubaroki says:

    prend…
    linkmu dah q pasang…
    silahkan di cek…
    klo da koment silahkan…
    GRATIS…

    Like

  21. F4iz says:

    Selamat belajar ya mbak..🙂

    Like

  22. fauzikun says:

    siip, semoga lancar uas nya😛

    sayah juga bentar lagi uas nih:mrgreen:

    Like

  23. atmakusumah says:

    Perenungan yang menyentuh sekali Nisa…🙂
    apalagi menjadikan orang tua kita tempat bersandar…selalu ada cahaya dari setiap Ibu dan ayah kita untuk menenerangi mendung yang menggelayuti anaknya…

    tetap semangat ya…

    Like

  24. belajar terbuka. saya juga sedang berjuang untuk lebih terbuka pada orangtua.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: