. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Observasiku di Kajang =D

on 12 December 2010

Kalau tidak salah, sekitar setahun yang lalu, saya mendapatkan tugas pada mata kuliah pengantar demografi untuk melakukan observasi masyarakat =D. Hehe.. dan kali ini sengaja disajikan di blog pribadi:mrgreen:. *Asline saya cengar-cengir sendiri baca hasil garapan ini😀 Oiya, maaf juga kalau fotonya buram ^^”, ini karena keterbatasan alat😀

* * *

Saya melakukan observasi aktivitas masyarakat di Dusun Kajang yang terletak di Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur sebanyak dua kali. Yang pertama adalah pada hari kedua lebaran, tepatnya tanggal 22 September 2009 pada pukul 19.00-20.30 WIB, dan yang kedua adalah pada tanggal 26 September 2009 pukul 14.00-15.00.

Begitu banyak macam aktivitas umat muslim di seantero nusantara dalam mengisi moment berharga bertajuk Hari Raya Idul Fitri 1430 H, tak terkecuali bagi masyarakat di Dusun berhawa sejuk tersebut. Dusun Kajang terletak sangat dekat dengan Gunung Ukir, yakni kaki Gunung Putri Tidur.

Pada kali pertama observasi tersebut, saya menemukan beberapa kebudayaan unik, hal-hal yang belum tentu bisa saya temui di tempat lain. Hal pertama yang unik adalah dekorasi. Setiap keluarga harus memasang satu buah lampion hias di depan rumahnya. Para warga telah menunjukkan kreasi dan kreativitasnya dengan lampion yang beraneka ragam bentuknya, ada bentuk pesawat, rumah, becak, tokoh film animasi, dan lain sebagainya. Barangkali ada warga membutuhkan lapangan pekerjaan, hal tersebut bisa dikembangkan menjadi usaha bisnis, berjualan lampion misalnya. Dengan begitu, kemakmuran ekonomi warga bisa meningkat. =D

Bisa kita bayangkan betapa indahnya saat malam hari, ketika ruas kanan dan kiri sepanjang satu kilometer jalan di perkampungan tersebut hanya diterangi lampion dan lampu rumah penduduk yang sebagian besar hanyalah lampu dop temaram. Tidak ada lampu penerangan di sana. Selain lampion, di sepanjang jalan juga dihiasi dengan gapura-gapura hias yang terbuat dari bambu.

Yang membuat saya takjub adalah dekorasi meriah tersebut dibuat oleh tiap warga dengan tangan dan peluh mereka sendiri. Bergotong-royong mengerahkan kreativitas dan ketekunan untuk menciptakan suasana ceria dan bahagia dalam bagian kehidupan mereka.

Belum selesai decak kagum saya pada sajian malam berjuta lampion, saya makin betah di tempat tersebut karena seluruh warganya sungguh “grapyakan”. Saya sempat dikejutkan oleh beberapa anak yang menghampiri dan menjulurkan tangannya saat berpapasan dengan saya. Saya sempat bingung, ada apa ini? Oh, ternyata anak-anak tersebut mengucapkan permohonan maaf lahir dan batin. Saya pun menyalami mereka satu per satu. Saya juga sempat ikut keliling ke beberapa rumah warga untuk bersilaturrahim. Mereka menyambut dengan baik, padahal saya adalah orang asing.

Setelah puas berkeliling menikmati syahdu redup cahaya lampion dan bermaafan, saya menuju ke pusat keramaian, yakni di sepanjang jalan di samping sebuah masjid. Masjid di Dusun Kajang memang selalu hidup, apalagi saat Bulan Ramadhan. Selain shalat berjamaah, ada kegiatan tadarus dan iktikaf bersama.

Di masjid tersebut,  seluruh warga antusias mengikuti serangkaian acara peringatan Hari Raya Idul Fitri. Pertama-tama, ada sajian kembang api, kemudian dilanjutkan dengan perlombaan untuk anak-anak. Ada lomba tusuk balon berisi uang dan lomba makan kerupuk. Seluruh warga sangat gembira, penuh tawa.

Beginilah kebudayaan masyarakat di sebuah perkampungan yang patut kita jadikan tauladan, mereka mengenal baik semua tetangganya. Masalah yang dialami oleh sebuah keluarga bisa didengar oleh keluarga yang lain sehingga tercapai tolong-menolong dan kepedulian antar masyarakat. Selain itu, mereka juga tak enggan-enggan dalam melaksanakan kegiatan lingkup RW (Rukun Warga), sehingga tercipta kebersamaan yang kokoh antar warga. Kebudayaan semacam ini harus dilestarikan di Indonesia karena termasuk dalam paradigma sehat, yakni sehat sosial.

Walaupun sebenarnya, peluncuran kembang api dan lomba tusuk balon ini bisa berbahaya jika dilakukan oleh anak-anak. Oleh karena itu, yang menghandle kembang api adalah dari kakak-kakak panitia dan pada saat lomba tusuk balon, anak-anak digendong dan dibantu oleh orang tuanya masing-masing. Lalu pada saat lomba makan kerupuk, kebersihan tampaknya dinomorduakan, karena kerupuk beralih dari tangan ke tangan saat digantung di tali, ditambah lagi udara di jalanan yang bersentuhan langsung dengan kerupuk. Jadi, sehat jasmani juga hendaknya lebih diperhatikan dalam hal ini.

Setelah lampion, juga gemerlap meriah dan ceria tersebut, hal unik lainnya adalah, pada tengah malam di hari kedua Idul Fitri, banyak masyarakat yang masih melaksanakan budaya turun-temurun mandi bersama di sungai. Sekalipun bersamaan, tetapi ada sekat yang memisahkan wilayah mandi untuk laki-laki dan perempuan.

Dipercaya oleh masyarakat bahwa, dahulu sungai tersebut adalah tempat mandi para bidadari, yang tentunya akan membawa suatu kebaikan tersendiri pada tubuh orang yang mandi di sana pada tengah malam di hari kedua lebaran. Jadi, walaupun dilaksanakan di tengah malam, mereka tiada keberatan sama sekali. Kalau kita pandang dari sudut kesehatan, mandi di tengah malam adalah kurang baik, tetapi kebudayaan tetap kukuh berjalan.

Pada hari pertama observasi ini, saya tidak bisa menyaksikan sendiri aktivitas tersebut, saya hanya mendapatkan cerita tersebut dari warga. Saat itu, saya juga belum mengamati sungainya, karena jalan menuju sungai begitu gelap, warga juga baru turun ke sungai pada tengah malam pula.

Mandi di sungai memang menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat di Dusun Kajang. Terbukti, saat saya bertanya pada seorang warga, dia bercerita bahwa di rumahnya tidak dibangun kamar mandi. Jadi, dia dan keluarga harus ke sungai untuk MCK (Mandi Cuci Kakus). Jika ditanya mengapa, alasannya sangat simpel, yaitu jarak rumah dan sungai yang begitu dekat, tinggal jalan kaki sebentar. Tidak ada wacana dalam keluarga mereka untuk membangun kamar mandi sendiri. Padahal, di keluarganya terdapat dua orang anak yang telah menginjak remaja, satu laki-laki dan yang lain adalah perempuan yang otomatis juga harus ke sungai untuk buang air dan mandi. Namun, tidak semua warga seperti itu, saat saya mengunjungi rumah warga yang lain, di dalam rumahnya sudah tersedia kamar mandi, walau hanya seadanya. Hanya terbuat dari anyaman bambu dan letaknya bersebelahan dengan dapur.

Masih penasaran dengan aktivitas masyarakat di Dusun Kajang, saya pun kembali melakukan observasi pada Hari Sabtu, 26 September 2009. Ada dua jalan gang untuk mengakses perkampungan yang saya amati tersebut. Di observasi kedua ini, saya melewati gang yang berbeda dari observasi pertama lalu. Jika pada kunjungan pertama saya cukup berjalan lurus, kemudian beberapa puluh meter kemudian dapat menjumpai perkampungan tersebut, kali kedua ini berbeda. Saya harus melewati jalan yang naik turun begitu curam, juga harus melewati banyak belokan, saya sempat tersesat.

Ternyata dalam perjalanan penuh liku untuk memasuki wilayah observasi, saya malah menemukan beberapa lokasi yang memang ingin saya amati. Saya menemukan sungai tempat MCK warga. Di dekat sungai tersebut, saya melihat ada tandon besar yang di sebelahnya dijelaskan bahwa tandon tersebut merupakan bagian dari proyek pembangunan jaringan air bersih atau air minum Dusun Kajang. Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah telah menjangkau kawasan tersebut dan penyediaan air bersih untuk konsumsi telah berjalan di Dusun tersebut.

Di sungai saat itu, kebetulan ada warga yang sedang beraktivitas “kakus” di sana, tetapi tidak ada yang sedang mencuci dan mandi, maklum karena hari masih siang. Biasanya warga turun ke sungai saat langit sore, petang, atau dini hari. Disebut “turun” ke sungai adalah kata-kata yang tepat, selain menggambarkan aktivitas menuju sungai, memang kita harus menuruni tanah yang dibentuk menyerupai anak-anak tangga. Jalannya begitu curam, menurut saya adalah berbahaya jika menuruninya di malam hari bila penerangan yang dibawa kurang memadai.

Jika saya amati, air sungai di sana mengalir dengan cukup lancar. Namun, air sungai tersebut telah tercemar oleh zat-zat kimia pada sabun, juga tercemar oleh kotoran manusia. Padahal, menurut keterangan warga, 15 tahun yang lalu, air sungai masih jernih. Mungkin itulah detik-detik dimulainya pencemaran lingkungan.

Kemudian, saya terus  mengamati lokasi-lokasi sungai yang ada. Ternyata, ada lokasi sungai yang mengering airnya dan terpisah saluran dari sungai untuk MCK. Sungai yang mengering tersebut digunakan sebagai tempat pembuangan sampah. Sampah menumpuk begitu banyak, bau busuk otomatis menjadi atmosfer di sekitar lokasi. Padahal, tidak jauh dari area tumpukan sampah, ada tulisan “Jagalah Kebersihan”. Sungguh merupakan hal yang kontras sekali. Yang satu menunjukkan kepeduliannya dengan kebersihan, sedang yang lain malah sebaliknya.😦

Sebaiknya, warga tidak menggunakan sungai sebagai MCK, agar terjaga kelestarian lingkungannya sekaligus menjadi upaya peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dengan senantiasa menggunakan air bersih untuk MCK.  Baik dengan membangun kamar mandi di rumah masing-masing atau pembangunan jamban yang tertutup, yang otomatis menggunakan air bersih, bukan air sungai. Pengadaan jamban tersebut juga dapat menimbulkan kenyamanan bagi privasi warga. Walaupun kenyataannya adalah sulit membiasakan masyarakat yang semula MCK di sungai menjadi di kamar mandi.

Selain itu, sampah yang diproduksi oleh masyarakat hendaknya dikelola dengan lebih baik. Disediakan tempat sampah yang memisahkan sampah basah dan sampah kering di beberapa lokasi di ruas jalan, yang kemudian diangkut oleh petugas kebersihan  menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) atau dikelola sendiri oleh masyarakat, sebagai semacam usaha daur ulang. Hal ini mungkin akan lebih baik, karena sampah yang dibiarkan menggunung begitu saja akan dapat menjadi awal mula munculnya penyakit.

Selain sepinya aktivitas di sungai, saya perhatikan memang hampir tidak ada aktivitas masyarakat. Jalanan dan sekitar rumah amat sepi, saya hanya bertemu dengan beberapa orang yang sedang bekerja di sawah. Perlu diketahui, mayoritas mata pencaharian warga adalah sebagai petani (padi dan sayur), pengrajin kayu, dan peternak menthok.

 

Ada warga yang mengumpulkan kayu sebagai bahan baku kerajinan dan sebagian yang lain mengumpulkan kayu sebagai bahan bakar memasak. Mungkin masakan yang diolah melalui kompor tradisional alias kayu yang dibakar, rasanya dianggap lebih enak, tetapi asap dari kayu yang dibakar kurang baik bagi kesehatan tubuh, karena dapat mengganggu pernafasan.

Kalau saya perhatikan, masyarakat di sana memang masih banyak yang berbudaya tradisional. Seorang warga yang masih memasak dengan kayu bakar tersebut ternyata juga masih menggunakan susur, seperti nenek-nenek zaman dahulu. Meskipun begitu, perangkat pelayanan kesehatan yang ada di Dusun tersebut sudah baik, terbukti adanya POLINDES yang menyediakan tenaga medis, termasuk bidan. Selain itu, ada Klinik Rehabilitasi Narkoba dan HIV AIDS – Penyembuhan totok darah.

Namun, saat saya berkunjung ke dua lokasi tersebut, yang ada hanyalah sepi. Bidan sedang tidak ada di tempat. Menurut saya, sebaiknya jumlah tenaga medis harus ditambah, karena kita tidak dapat menduga terjadinya suatu kejadian, siapa tahu tiba-tiba ada ibu melahirkan, lalu tidak ada bidan yang membantu proses persalinannya, hal tersebut akan membahayakan keselamatan ibu dan bayi.

Begitulah sekelumit ragam aktivitas yang ada di Dusun Kajang Desa Mojorejo, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Provinsi Jawa Timur yang telah saya amati selama dua hari dalam suasana Hari Raya Idul Fitri. Semoga budaya yang baik, seperti kekokohan silaturrahim antar masyarakat, juga kekompakan dan antusias warga dalam memperingati Hari Raya Idul Fitri terus lestari dan dapat dicontoh oleh masyarakat lain, terutama di perumahan yang biasanya lebih menutup diri. Namun, budaya kurang baik seperti MCK di sungai dan menimbun sampah hendaknya dihilangkan, demi meraih kesehatan masyarakat yang baik. Koordinasi pemerintah dengan warga juga amat dibutuhkan dalam mengupayakan perbaikan-perbaikan tersebut.

* * *

Setahun berikutnya, juga ketika Idul Fitri, saya kembali ke sana… ^^ dan ternyata kampung ini masih kental dengan ‘lampion’nya😀.


30 responses to “Observasiku di Kajang =D

  1. observasi yg baik
    semoga dapat menginspirasi kita semua.

    Like

  2. arisriyadi says:

    Greetings and salutations prosperous

    Like

  3. didta7 says:

    ada bebek nya *.*

    Like

  4. observasi ke tempatku yang baru dunk😀

    Like

  5. Assamaalu’alaikum Nisa

    Selamat Hari Ibu buatmu dan semua ibu yang merayakan Hari Ibu di Indonesia. Saya tumpang bahagia untuk menyambutnya bersama kalian. Hargailah diri sebagai ibu atau anak. berbaktilah dengan setulus hati untuk membahagiakan ibu kita.

    Ada award untukmu sahabat, silakan titip sebagai tanda penghargaan selama bersahabat di maya pada.

    http://webctfatimah.wordpress.com/2010/12/22/ct31-22-disember-2010-selamat-hari-ibu-buat-ibu-ibu-di-indonesia/

    salam rindu dan sayang selalu dari sarikei, sarawak.

    Like

  6. […] Wiwin9, Mamah Aline, Fitri, RuangHati,  Fety, OrangeFloat, Mila, Nisa, Irmawaty, Merliana Ayuni, Nisa, LynaRiyanto, MyLitleUsagi, Pendar Bintang, Monda, Kakaakin, HujungSenja, Wits, NinilSudarmini, […]

    Like

  7. cantigi™ says:

    understandable.
    artikel gini yg makin nambah wawasan. sehat & sukses terus ya..

    Like

  8. endra says:

    kayaknya desanya indah tuk di kunjungi nih….Tapi sayang sungainya kok kotor ya……

    Like

  9. Membaca tulisan ini serasa turut di Kajang; hmm… semoga suatu saat bisa ke Kajang, atau ke Batu. Ohya, salam kenal….

    Like

  10. Irfan says:

    desa selalu bikin betah dan sedikit ngelupan nyari kerja di kota nis! hhhee…😀

    Like

  11. Apakabar nisa?
    Terima kasih atas informasinya, observasi yang bagus dan itu perlu dicontoh olah semua masyarakat agar sampah-ampah nya tidak kemana-mana diadakan pengolahan seperti itu. Masyrakat yang peduli dan sadar saja yang dapat mengolah atau mendaur ulang dsampah-sampah.
    Semoga lebih baik lagi masyarakat indonesia dalam membuang sampah.
    Salam kenal ya mbak?

    Like

  12. Pengolahan sampah yang baik dan dapat memperdayakan ekonomi kerakyatan bisa diaktifkan didaerah2 seperti itu. Sekaliguh dapat membuat lingkungan semakin indah dan subur.

    Dengan mengatasi permasalahan yang kecil; maka, kita dapat mengatasi permasalahan yang besar.

    Sukses selalu

    Salam >>> “Ejawantah’s Blog”

    Like

  13. An says:

    kaki gunung putri tidur..
    deket UIN maliki kah mbak nis?

    Like

  14. alamendah says:

    (Maaf) izin mengamankan KEEMPAX dulu. Boleh, kan?!
    Lampionnya mengesankan, tapi sungainya yang mulai kotor; mengesalkan!

    Like

  15. lama gak bersua
    sebuah daerah yang memiliki khas
    dan lampion tersebut membuatnya lebih berwarna ya dik🙂

    Like

  16. kawanlama95 says:

    Observasi yang baik nis , tentunya akan menemukan beragam karakter di sana kalo sampahnya dikelola dengan baik saya liat banyak sampah plastik ya. bisa di kumpulakan tuh keknya. wah saya jadi inget masa lalu waktu keliling ke berbagai daerah. Sukses ya dengan aktivitasnya

    Like

    • Nisa says:

      pengolahan sampah yang baik, menjadi PR bagi kita semua.

      aktivitas apa itu pak keliling ke berbagai daerah? *saya juga pengen keliling2:mrgreen:

      semoga sukses juga, amiin🙂

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: