. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Panjebar Semangat

on 10 March 2011

Srengenge wis wiwit tangi

Urubing lampu dalan wis padha mati

Kumriyeging wong kang wira-wiri

Rerambate lakuning wektu

Ibu, aku kudu budhal

Pangestumu dak sun pundhi

….

Allah bakal ngijabahi

(Pak Sukri, guru saya di MIN Malang I dahulu)

* * *

Yang ada di atas adalah sebuah puisi karya guru saya, huruf awal di setiap barisnya menyusun nama lengkap guru saya tersebut. Sayang sekali, saya hanya bisa mengingat beberapa baris, sebenarnya ada empat baris lagi sebelum baris terakhir. Saya sudah berusaha mengais-ngais ingatan itu, tapi lupa..

Inti dari puisi yang ditulis dengan Bahasa Jawa di atas, kurang lebih adalah semangat ketika membuka mata di hari yang baru. Memulai pagi dengan penuh semangat menuju sekolah, tak lupa mohon restu orang tua dan berdoa kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Tiba-tiba, saya teringat kepada beliau. Seorang guru yang mahir di berbagai bidang ilmu. Mulai dari Matematika, Bahasa Arab, hingga Bahasa Daerah (yang biasa disebut BD). Beliau pandai sekali menyanyikan tembang jawa.

Apalagi, di sekolah kami dahulu, pelajaran BD tidak melulu di kelas mempelajari materi saja. Melainkan ada praktik memainkan alat musik gamelan yang biasa disebut seni karawitan. Biasanya, satu kelas dibagi menjadi dua kelompok besar sesuai urutan presensi yang nantinya akan bergantian memasuki pelajaran di dalam ruangan dan pelajaran seni karawitan. Kadang juga dicampur jadi satu sih, sampai-sampai ruang gamelan penuh sesak dengan keriwehan kami.

Saya sangat sukaa sekali dengan pelajaran bahasa daerah. Meski harus menghafal nama-nama anak hewan (arane anak kewan), nama-nama bunga, ada juga nembang, parikan, camboran, krama inggil, madya, dan ngoko (saya mah paling fasih bahasa jawa ngoko, ngoko itu yang paling tidak halus yang digunakan untuk teman sebaya atau yang lebih muda). Hingga saat MTs (setingkat SMP) saya mengenal a,i,e,u jejeg dan miring. Dan yang paling penting juga, kami harus bisa menulis Aksara Jawa. Mulai dari ha na ca ra ka, hingga aksara murda, dan sebaris-sebaris kalimat yang terkadang cukup rumit, perlu pasangan, aksara-aksara khusus, juga pangkon. Kami pun jadi mengetahui sedikit-sedikit kisah pewayangan, juga pada wacana (bacaan), sering diselipkan pelajaran-pelajaran norma di dalamnya.

Untuk seni karawitan sendiri, saya amat kurang piawai. Namun, suatu hari saya menetapkan beberapa alat musik gamelan yang saya nilai saya cukup bisa memainkannya (yang nantinya akan saya incar untuk ditempati, meski toh nanti harus roling saat satu lagu habis dimainkan). Seperti Demung, Gambang Kayu, Kendang, dan Gong yang juga sepertinya masih lumayan. Namun, begitu memegang Kenong, Saron Barong, Saron Penerus, wah… kacau sudah.. Entahlah, saya kurang bisa menyelaraskan antara angka-angka dan kode alat gamelan yang ada di papan tulis dengan alat musik yang saya pegang.

Wahh… seru sekali pelajaran ini. ^_^/

Satu lagi yang saya ingat adalah, Pak Sukri pernah menugaskan kelas kami untuk berlangganan sebuah majalah berbahasa jawa. Sebuah majalah yang punya nama powerful; Panjebar Semangat. Meski saya tidak pernah membacanya sampai habis tak bersisa, tetapi judul majalah ini hingga kini masih saja saya ingat. Seolah mengingatkan saya untuk selalu bersemangat. Bersemangat dalam segala bentuk ibadah.

Panjebar Semangat ini juga begitu cocok jika disandingkan dengan tipikal guru saya, Pak Sukri. Beliau adalah sesorang yang selalu bersemangat, berjalan dengan langkah yang selalu cepat dan pasti. Mengajarkan matematika dengan begitu cerdas (sayang sekali saat itu kemampuan kognitif saya pada mata pelajaran matematika kurang siiip :(), mengajarkan Bahasa dengan luwes, dan megajarkan Agama dengan lembut.

Panjebar semangat berarti bukan hanya diri kita saja yang musti semangat, melainkan kita harus menyebarkan virus semangat itu pada orang lain. Panjebar semangat itu meradiasikan energi-energi positif bagi lingkungan sekitarnya. So, hayuk atuh menjadi Panjebar Semangat ^_^/.

Terkadang, tentu kita melewati masa-masa sulit dalam kehidupan kita. Seolah semangat meluruh, redup, bahkan nyaris sirna. Padahal, ketika kita benar-benar yakin bahwa ada kemudahan usai kesulitan, dan kita yakin bahwa ujian yang diberikan oleh Allah tidak melebihi batas kesanggupan kita , serta nantinya –jika kita mau bersabar dan ikhlas– kita yakin akan balasan Allah yang berlipat, maka takkan ada rasa kecewa dan sedih yang memadamkan semangat. Bara api semangat akan menyala dengan senyum tegar..

. . .


12 responses to “Panjebar Semangat

  1. Nahda Anisa says:

    assalamualaikum, saya muri pak sukri sekarang, mungkin saya bisa memberi lanjutan puisi itu untuk anda? nanti saya tanyakan. terima kasih:)

    Like

  2. Nisa says:

    Subhanallah,, mas fajar angkatan berapa?😀

    Like

  3. Fajar says:

    Wah, jadi kangen beliau. Saya juga muridnya beliau mbak…

    Like

  4. edda says:

    he em,, betul sekali🙂

    Like

  5. anla arinda says:

    mbak nis, aku jadi kangen pelajaran bahasa jawa.
    Ayo lestarikan bahasa jawa!😀

    Like

  6. wi3nd says:

    S U K R I P ya nduk nama gurunya ?

    Puisine elok ki..

    aku sitik sitik ngerti he he..

    yah semangad memang diperlukan untuk memacu diri ya..
    tapi terkadang pas semangad redup yo bali meneh..

    ayoo SeManGkaaa…🙂

    Like

  7. syah alfaraby says:

    wah, nostalgia nih🙂

    kalo saya dulu . . . .
    *Lupa😦

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: