. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Meniti dengan Keseimbangan

on 13 April 2011

Rasululloh saw. adalah sosok yang ideal dijadikan model atas pelaksanaan konsep tawazun. Beliau adalah orang yang memiliki keimanan yang kuat, pemimpin dan ahli ibadah yang zuhud, ahli strategi perang yang sangat berani, panglima yang gigih, teguh dan agung. Di lingkungan keluarga, beliau adalah sebaik-baik pemimpin keluarga sekaligus guru, baik terhadap istri, anak-anak maupun seluruh kerabat.

* * *

Seperti meniti di atas jembatan yang terbuat dari sebilah bambu. Dengan luas permukaan yang teramat sempit, juga sudah tidak lagi kokoh alias mereyot. Ditambah lagi resiko akibat permukaannya yang licin. Hap hap hap, aku mencoba berada dalam posisi seimbang. Kubentangkan kedua tangan, badanku sedikit bergoyang ke kanan, sebentar ke kiri. Bismillah.. harus segera sampai ke ujung jembatan ini. Harus tetap seimbang hingga finish.

Seimbang, bahasa bekennya “tawazun”. Yang kini menjadi tagline dalam awang-awang kamus perbaikan diri saya. Bisa menyeimbangkan segala porsi dalam beperkara, bisa mengelola berbagai lini hingga tak ada yang terabaikan.

Nisa, gak mau kan jatuh dari jembatan, lalu tercebur ke sungai berlumpur? Apalagi ketika kelak meniti jembatan di hari akhir kelak..

Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam bersabda, “Dan Neraka Jahannam itu memiliki jembatan yang lebih tipis dari rambut dan lebih tajam dari pedang. Di atasnya ada besi-besi yang berpengait dan duri-duri yang mengambil siapa saja yang dikehendaki Allah. Dan manusia di atas jembatan itu ada yang (melintas) laksana kedipan mata, ada yang laksana kilat dan ada yang laksana angin, ada yang laksana kuda yang berlari kencang dan ada yang laksana onta berjalan. Dan para malaikat berkata: ”Ya Allah, selamatkanlah. Selamatkanlah.” Maka ada yang selamat, ada yang tercabik-cabik lalu diselamatkan dan juga ada yang digulung dalam neraka di atas wajahnya.” (HR Ahmad 23649)

* * *

Bermula dari sekelebat renungan, bahwa Nisa harus bisa tawazun, eh.. malah kepikiran sampai ke sana..😥

 


8 responses to “Meniti dengan Keseimbangan

  1. Assalaamu’alaikum:)

    Like

  2. choirul says:

    semoga saya bisa seimbang…. biar g jatuh lagi ke sungai penuh lumpur

    Like

  3. namakuananda says:

    Insya Allah bisa menuju ujung jembatan

    Like

  4. eM says:

    keseimbangan… jujur.. aq belum dapat kan itu…

    Like

  5. mudah2an bisa menyeimbangkan antara dunia & aherat…

    Like

  6. dhila13 says:

    yap.. tawazun.. tawazun. tawazun memang sangat diperlukan.

    salam nisa..😉

    Like

  7. yanrmhd says:

    semoga Nisa bisa mengatasi semua…semangat!
    membereskan urusan dan semangat! menjadikan semuanya lebih baik…
    oke, do the best, bismillah…😉

    hm…hati2 tuh nyebrangnya…pasti licin😀

    Like

  8. alamendah says:

    (Maaf) izin mengamankan PERTAMAX dulu. Boleh, kan?!
    Keseimbangan harus selalu ada di semua bidang. dalam diri, dalam masyarakat, maupun di alam semesta iini.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: