. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Memar

on 16 May 2011

Ps : Mohon maaf kalau di postingan ini disebut-sebut nama “Bonek”. Saya tidak bermaksud apa-apa, hanya ingin bercerita tentang sebuah pengalaman yang berkaitan..^^’’ semoga tidak menimbulkan hal yang tidak berkenan..

~o0o~

“Pak, Penataran belum datang ya, Pak?”, tanyaku pada petugas yang berdiri di dekat peron lima, sambil sedikit bernafas megap-megap karena baru saja berlari-lari kecil.

“Lhooh,, lha ini lho, Mbak.. Penataran..”, kata beliau sambil menuding kereta yang tapat ada di hadapanku. Satu-Dua meter di depanku.

Saya pun cuma bisa ngaplo, bengong. Saya hampir tak pernah naik kereta pukul 18.25, aneh saja melihat kereta ini berlabuh di peron yang tidak biasanya.

“Waduh.. naik lewat pintu yang mana ya?”, masih sempat saya celingak-celinguk, mengamati kondisi sebelum naik, yang belakangan kini memang menjadi tabiat wajib saya.

“Mbak.. Mbak.. Sini aja, Mbak.. Sini aja lho..”, pemuda berkaus hijau, kostum Bonek memanggil-manggil saya.

Ampun deh… saya cari pintu lain.

Saya pun naik di pintu gerbong yang sepi. Begitu naik, saya kembali celingukan. Dan… “Jreng jeng jeng!! Byuuh.. Banyak Bonek juga kayaknya di gerbong ini.. Saya pun tidak segera mencari tempat duduk dan lagi-lagi ngaplo di perbatasan gerbong. Berdiri dengan dua buah tas menggembung.

“Lho, Mbak, mau ke mana?”, sapa petugas sepur.

“Mau ke Malang, Pak..”, jawab saya.

“Masuk ke sana lho, lewat lorong trus lewat gerbong makan, nah.. di sana masih banyak tempat duduk kosong.. Kok malah berdiri.. Duduk sana lho..”

“Oh… iya, Pak..”, tanpa ragu lagi saya menyusuri petunjuk bapak tadi dan menemukan gerbong yang masih luang. Banyak penumpang yang laki-laki, duh, satu nasihat untuk diri saya sendiri : muslimah seharusnya bepergian dengan mahram, Nisa.. *menyesal* =,= Akhirnya saya temukan bangku kosong dekat seorang mbak. Kami pun bertukar senyum dan saling mempersilahkan.

Nah, perjalanan kali ini tidak disambi baca novel, tapi baca buku “Hidup Tak Mengenal Siaran Tunda” yang sesungguhnya sudah dibeli Februari tahun lalu tapi keduluan dipinjam teman, dan karena kesalahanku yang belum menyampulnya, buku itu kini dah lecek dan kusam sebelum usianya *tears*.

Bismillah… aku pulang🙂

Setiap kesempatan punya kadarnya sendiri. Seperti setiap zaman yang punya manusianya sendiri. Inti dari membangun kehidupan kita adalah hari ini. Hari ini lah saat yang sesungguhnya. Saat kita beramal dan menabung amal shalih. (buku yang tak baca, halaman 5)

“Awas kepala, mendekati Sidoarjo banyak batu yang dilempar.. Kepalanya disimpan.”

“Owh.. karena banyak Bonek…”, pikirku. “Ya Allah, jendela bagian atas di tempatku duduk bolong.. gak ada jendela atasnya..”

“Awas, Mbak. Sampeyan pindah duduk sini dulu, di sebelah mbaknya. Kalau duduk di arah yang berlainan dengan arah melaju kereta, paling-paling kena situ (sambil menunjuk ke sebelah jendela), lebih kecil kemungkinan kena batu.”, kata bapak petugas kereta api dalam bahasa jawa, yang kutangkap seperti itu.

Blethak!! Serangan pertama datang!! Serangan batu benerann!!

Kami para pengunjung kereta pun, mengamini satu aba-aba. Semula kami merunduk dengan menutupi kepala dengan tas.

Suasana sempat tenang kembali ketika kereta berhenti lama di suatu stasiun, di saat itu para pemuda-pemuda di bangku seberang kiri saya mulai merokok dan ngobrol ngalor-ngidul. Mumet saya sama asap rokok T_T gimana ini, masalah kesehatan kuadran dua : pelaku menyadari timbulnya bahaya (mereka mahasiswa gitu loh)akibat perbuatan yang dilakukannya, merokok. Haduh, sebagai pengemban ilmu kesehatan, saya musti ikut tanggung jawab buat solusinya nih.. Bukan cuma perkara rokok, tapi ucapan pemuda-pemuda itu banyak kata-kata kotor (misuh) dan mengumpat. =,,= Nah, jadi PR lagi nih buat Nisa, bagaimana agar mereka bisa bertutur kata dengan baik..

Kini kereta kembali menderu, ketika makin mendekati Sidoarjo hujan batu kembali turun dan semakin menjadi. Jdokk!! Dook!! Dokk!! Badan kereta ini terus dihantam batu oleh para ‘musuh’ Bonek. Kaca di bangku diagonal kiri belakang saya retak-retak.

Kami para penumpang kini tanpa perlu komando, langsung beringsut jongkok ke bawah menjajari rendahnya bangku. Beberapa masih menutupi kepala dengan tas atau semacamnya. Byuuhh.. karena tas saya begitu berat, saya kesulitan melindungi kepala =,,=. Eh, saya sempat nyengir geli aja waktu disebut “kepala disimpan”^^’’ kayak apa aja..

Berpuluh-puluh kilometer dilalui dengan sedikit duduk, banyak merunduk, banyak beringsut. Leher saya sampai sakiitt, capek. Dan di saat genting seperti masih saja saya sempat-sempatnya melanjutkan membaca buku dan mbak di sebelah saya juga sempat-sempatnya BBM-an😀. Di saat genting, dalam posisi tidak nyaman seperti apa pun, kami masih melanjutkan aktivitas ini.

“Mbak turun di Belimbing aja..”, kata embak di sebelah saya menyarankan. “Biasanya bonek turun si Kota Baru, ya, Mbak?”, tanya saya.

Hidup hanyalah kesempatan membuat pilihan. Segalanya bergulir dan bergilir. (halaman 49)

Saya pun langsung mengontak ibu dan ayah di rumah, minta dijemput di Belimbing.

Bapak petugas kereta api berjalan melewati gerbong kami sambil membawa kotak P3K. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un.. ada yang terluka.. Saya tiba-tiba teringat kisah di balik Merapi, sebelum ia meletus..

“Sudah, Mbak.. Duduk lagi, tapi tetap waspada, agak nunduk..”

Alhamdulillah, ‘kengerian’ ini finish ketika kami telah melaju di Pasuruan. InsyaAllah aman. Kesimpulannya, kapan-kapan bawa helm ah kalau ada Bonek di keretaku… >_<

Belum sampai Belimbing, ponsel saya kehabisan baterainya. Salah saya sendiri tadi bisa-bisanya pemborosan energi dengan dipakai internetan. Bagaimana mengontak bapak nanti? Ah, sudahlah.. memang bukan sepantasnya bergantung pada hape, kalau Allah berkenan, insyaAllah nanti ketemu sama bapak. Banyak doa saja..

Untuk pertama kali, saya transit di Stasiun Blimbing. ^^ Alhamdulillah..

Ciiitt… Rem kereta berdecit. Daratan terlihat di bawah sana, “Aduh, tinggi banget jarak pintu kereta dengan tanahnya..”. Memang lebih tinggi dari biasanya, hingga ada tangga pijakan yang sayangnya enggak dipasang oleh bapak petugasnya. Saya pun turun, daaannn….. eits, gedebuk!! Nisa jatuh, sodara-sodara.

Tas krem slempangan samping saya pun kotor, begitu juga telapak tangan kanan saya. Kelingking pun membiru, memar:mrgreen:.

~o0o~

Pada akhirnya, memar bukan hanya pada kelingking, tapi ada memar-memar juga dalam hati saya. Miris lihat para supporter bola yang mengedepankan ‘permusuhan’, miris melihat kondisi pemuda-pemuda di sekitar saya.. Halah, jadi sok ah Nisa ini, belum tentu juga saya sudah menjadi pemudi yang benar-benar baik..

Semoga kerisauan ini menjadi loncatan positif yang membangun jiwa.. bergerak, ayo tuntaskan perbaikan.❗


22 responses to “Memar

  1. orenjeck says:

    cecececece…… alhmdulillah saku slalu pulang jam segitu 18.25 dan selalu aman. Kadang sendirian malah… tapi sering-sering sama anak-anak farmasi. dan lebih alhamdulillah kejadian di kretaku belum separah cece…😀 tipz jika pulang bawak barang sesedikit mungkin laporan dan buku yang kadang dianggap penting toh nanti juga gak dikerjakan, ehm dan charge hape sebelumnnya cece…….😀😀
    btw ati-ati deh😀 kreta emang murah tapi jaga diri sendiri lebih penting (klo aku mungkin jg bakal nekat kayak cece tetep pulang)

    Like

    • Nisa says:

      hihiii… siipp, perlu kematangan dalam perjalanan mengendarai penataran kita😀

      kita emang suka nekat juga ya, gak mau kalah sama pasukan ‘bondo nekat’ hehee..

      senang sekali kemarin bisa naik kereta sama cece ^^

      Like

  2. Galuh Lintang says:

    ya Allah, deg2an bacanyaaa…. ga kebayang deh…

    Like

  3. phiy says:

    suporter di sini juga bgitu, rusuh dan ga tertib. Ga enak diliatnya😦

    Like

  4. mamung says:

    mudah2an ke depan kondisi semacam itu dapat diminimalisir.. sepakbola menjadi tontonan yang indah dengan suporter yang santun..

    Like

  5. srulz says:

    ehm, perbaiki lagi di hari esok, spya lebih hti hati lagi…
    jatuh memang rasanya sakit….

    Like

  6. anla arinda says:

    saya juga pernah terjebak dilautan supporter, waktu itu posisi saya lagi di dalam angkot sepulang dari sekolah.
    *ngerii

    Like

    • Nisa says:

      iya rin, ngerii ya😦 aku juga pernah tuh pas di jalan raya ketemu squad bonek, mana kena lampu merah lagi.. untuk mereka cuma lewat…

      Like

  7. cenya95 says:

    saat loncat, tak buka payung, ya ??
    tak apa… memar bisa hilang.., hanya malu yang terkenang.🙂

    Like

  8. Hanya di Indonesia ya mba… perjalan kereta bisa se”indah” itu….😀

    Like

  9. Triiz says:

    hahaha,cara baru
    Sedia helm sebelum sebelum bonek datang:mrgreen:
    Jadi kl di stasiun,speda di parkir,helm di bawa terus🙂

    Like

  10. ya begitulah kenyataannya :nohope:
    permusuhan yang mungkin tak akan ada habisnya. dikarenakan terlalu Fanatik terhadap kelompoknya,

    jadi teringat Hadist Rasul yang kurang lebih isinya : “seseorang yang terlalu Fanatik terhadap suatu kelompok maka Bukan termasuk golonganku !” -,-a

    Ketahuilah!!, Ikatan Islam BUKAN Ikatan DARAH, NASAB, dan BANGSA oleh Sayyid Quthb🙂

    *tumben gak ada gambarnya :hammer

    Like

    • Nisa says:

      Siip Syah, ukhuwah Islamiyah adalah persaudaraan atas dasar iman kepada Allah🙂

      ^^

      *gak ada gambar e, koneksi ngadat2 soale..

      Like

  11. Asop says:

    Gak apa2, silakan kecam bonek sepuasnya, karena saya bukan bonek.😀
    Saya pendukung Persebaya 1927 (yang di LPI), tapi saya bukan bonek yang cuma bondo nekat.😆

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: