. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Egoisme Jalan Raya

on 1 June 2011

Ruas jalan ini telah dibagi menjadi dua sisi, di kanan dan kiri. Namun, truk, mobil, bus, juga sepeda motor itu tidak kuasa menahan diri untuk melaju menerabas sisi yang lain, hingga saya yang berada di lajur kiri harus deg-deg an karena khawatir tertabrak kendaraan-kendaraan dari arah berlawanan.
Begitu juga saat bertemu pada persimpangan jalan yang tidak ada lampu merahnya, kendaraan-kendaraan ini sama-sama maju hingga bertemu di tengah, akhirnya bingung mencari celah dan jalanan pun makin riweh..

Saya pun pernah mengalami, beberapa kali hampir saya menabrak orang yang menyebrang jalan, ketika saya melaju kencang karena terburu-buru menghadiri sebuah undangan😥.

Cerminan egois di jalan raya juga terpantul dalam kehidupan sehari-hari. Entah di kelas atau di kontrakan. Coba tengok fenomena berebut tanda tangan saat presensi terlambat muter di kelas, semua pada suka berjejalan ingin jadi yang pertama dalam membubuhkan tanda tangan di kolom presensi. Atau saat di kontrakan, kepadatan agenda di luar membuat piket di kontrakan terbengkalai karena tidak mau menyisihkan atau mencuri waktu di malam hari untuk merampungkan tugas piket tersebut. Akhirnya yang lain pun dirugikan..

Itu masih hal yang remeh temeh, sungguh masih banyak lagi perbuatan-perbuatan mau menang sendiri yang sering dilakukan…😥

Padahal tingkatan ukhuwah tertinggi adalah itsar, yakni mendahulukan kepentingan saudaranya.. Ingin, saya ingin sekali merajut ukhuwah. Merasakan hangatnya dekapan ukhuwah seperti yang kurasakan sebelum memutuskan untuk berada di “jalan” ini..

Seperti batu bata, kita tak bisa berdiri sendiri-sendiri. Namun, harus tersusun rapi dan dieratkan dengan material-material yang lain..

*gomenasai, another postingan geje.. dari jalan raya kok iso nyambung batu bata ini gimana sih, Nisa? ^^


34 responses to “Egoisme Jalan Raya

  1. Ahsan says:

    Saya suka sekali sama kalimat terakhirnya🙂
    “dari jalan raya kok iso nyambung batu bata ini gimana sih, Nisa?”:mrgreen:

    Like

  2. PSDM says:

    semoga Allah senantiasa menjaga saudaraku ukhti nisa dari segala mara bahaya dimanapun dan kapanpun anti berada,. Allah selalu bersama anti..🙂

    Like

  3. ufo p says:

    kok bisa dapet foto dari sisi FKG ya???how u take that pict?

    Like

  4. wah.. ane jadi teringat calon postingan, judulnya “Belajar dari Jalanan”

    Ada beberapa yang mirip, hehe..

    mari kita belajar menulis lebih baik lagi.. ^^

    Like

  5. septarius says:

    ..
    kalo di desa gak gitu kok..
    yah maklum jalanan masih sepi..hehehe..
    ..

    Like

    • Nisa says:

      Wahh, akhirnya Ata Chan mampir kemari juga ^^ lama nian tak bersua di blogsphere..

      hehe,,, itulah ynag membuatku selalu rindu pedesaan😀

      Like

  6. kalo saya jadi tukangnya aja😉
    nikmati prosesnya bangun

    Like

  7. Galuh Lintang says:

    ini mah bukan postingan gejeee.. postingan keren!😀

    pokoknya tetep sopan di jalan, biar selamat😀

    Like

  8. fharkhan says:

    Fastabiqul khoiroot,,..
    berlomba-lomba dalam hal kebaikan..
    salam kenal..

    Like

  9. Aulia says:

    contoh yg luar biasa, cuma dari batu bata yg ada disekitar kita belajar banyak🙂

    Like

  10. phiy says:

    egoisme jalan raya juga sering terlihat saat macet. Keliatan semua jelek2nya manusia😀

    Like

    • nisa says:

      bener banget mbak phiy, banyak klakson2 yang memicu paparan bising, ngedumel, sampai para pesepeda motor maksa pakai area pejalan kaki >_<

      Like

  11. Triiz says:

    wlaupun nyambungnya ke batu bata tp ada plajaran yg bisa aq ambil
    Nice post🙂

    Like

  12. anla arinda says:

    perubahan itu… dimulai dari diri sendiri..
    eh, ndak nyambung ya,. komen saya:mrgreen:

    Like

  13. Asop says:

    Hehe, di unair sama ya, masih pakai tanda tangan absen yang muter di kelas.😀

    Like

  14. Wempi says:

    itu mungkin hebatnya nisa

    Like

  15. Kakaakin says:

    Seandainya semua org brpikiran demikian, gak akan ada yg meninggal saat berdesak2an..

    Like

    • Nisa says:

      begitulah, saat ada distribusi pangan murah, semua saling berdesakan.. hingga mungkin ada nenek renta yang meninggal terinjak..

      *haduuh serem mbayanginnya😥

      Like

  16. komuter says:

    maaf, kalau saya melihatnya secara sepihak (saya doang), ada acara adat, terutama di daerah jawa yang berebut tumpengan. kurang lebih menginspirasi bahwa kalau mau dapat sesuatu harus merebut, tidak peduli yang lain tidak kebagian.
    .
    .
    *hanya pemikiran sepihak

    Like

  17. syah.alfaraby says:

    Quote : Padahal tingkatan ukhuwah tertinggi adalah itsar, yakni mendahulukan kepentingan saudaranya..

    memang dalam semua hal kudu gitu🙂 kecuali dalam hal beribadah kudu mendahulukan diri sendiri . CMIIW

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: