. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Perkara Duit?

on 17 June 2011

.

Di lantai dua Masjid Al-Ikhlas Perak, masih mengenakan mukenah putih. Sambil membuang pandang ke atap masjid, saya menghela nafas panjang..

“Dana kita gimana ya..”, ucap saya pada bendahara kegiatan.

“Tenang, Buk.. InsyaAllah dimudahkan, toh kita melangkah dalam kebaikan.. Bismillah..”

“Allah Maha Kaya, tiada perlu kita risau.”, bisikku dalam hati..

~o0o~

Dalam sebuah proses manajemen kita memerlukan 6M, 2T, dan I. Salah satunya adalah Money alias duit. Suatu hari teman saya pernah bercita-cita menjadi orang terkaya di Indonesia agar bisa berkontibusi dalam urusan financial. Saat itu saya tidak begitu memperhatikan ucapannya, hingga hari ini saya mulai sadar bahwa dakwah juga butuh duit ya😀.

Jutaan rupiah anggaran dana yang ada tetapi ketersediaan dana masih ‘ghoib’ sudah menjadi hal yang lama-lama membuat kami terbiasa. Tak jarang terjadi, hari H pelaksanaan kegiatan sudah tiba tapi dana masih beberapa peser, hingga panitia pun harus rela mengocek saku pribadi. Kami pun pernah dijuluki “berhati tapi tak berharta”, nah lho?

Begitulah fenomena yang mengiringi pendanaan dalam kegiatan kami, tidak ada kejelasan rupiah. Dahulu saya cukup panik dengan keadaan ini, tetapi lama-kelamaan saya pun menganggapnya lumrah dan aman-aman saja. Kini yang saya khawatirkan adalah kami jadi membiasakan “tangan di bawah”, menunggu asupan dana tak terduga dari donatur anonim😥.

Jujur sih.. kalau ditanya perkara duit, saya pun kadang cuma bisa cengar-cengir..

Intinya di sini adalah, saya ingin agar kami bisa proaktif dalam menjalankan pendanaan untuk organisasi, salah satunya melalui pintu kewirausahaan. Meski keyakinan bahwa kemudahan pasti mengiringi kesulitan tetap teguh, mbok ya kita maksimalkan usaha pisaann ^___^

Saya merasa kurangnya keseimbangan di sini. Sunnatullahnya berikhtiar, berdoa, dan bertawakal.. tapi kami masih sangat kurang dalam hal ikhtiarnya…

Kini, jika ditanya perkara duit, bukan sekadar jawaban “senyum dulu” yang bisa saya ucapkan, melainkan –seharusnya– jawaban usaha-usaha kreatif untuk memenuhinya pula…

~o0o~

Ehem, ehem, sebenarnya bukan cuma di organisasi, melainkan merupakan refleksi dari diri saya sendiri ding.. T_T Belakangan saya jadi ‘menghindar’ kalau berperkara sama duit, padahal ketidaksanggupan mandiri dalam hal finansial ini juga salah saya sendiri yang tidak mau berkembang dalam hal entrepreneurship-nya..

Belakangan pula saya diingatkan agar tidak menjadi orang yang ‘terlalu santai’. Perlu dimunculkan lecutan konflik yang membangun. Setidaknya target saya ya itu tadi : ikhtiar-doa-tawakal yang diamalkan dengan selaras..

Allaahummaa innii asaluka ‘ilman naafi’a wa rizqon waasi’a thoyyiban wa halaalan..

Jadi, selanjutnya bagaimana langkahmu, Nisa?


17 responses to “Perkara Duit?

  1. wah, kalo masalah uang😐 aja deh

    Like

  2. selalu ada jalan … ^_^

    berkunjung …
    salam ukhuwah dari 4antum …

    Like

  3. giewahyudi says:

    Entrepreneur memang menjadikan kita lebih independen setidaknya secara finansial..

    Like

  4. tetep semangat, dan yakin selalu akan ada jalan dariNya…

    Like

  5. phiy says:

    kalo udh niat gini, insyaAllah dimudahkan, apalagi utk seorang nisa🙂

    Like

  6. anla arinda says:

    saya jadi ingat jaman saya SMA dulu ketika dapat amanah jadi koordinator tim Pendanaan sebuah acara.. H-30 dana masih 0%. betapa seteresnya saya (kami) pada waktu itu. sekali-kali kita nggak bisa juga menaifkan uang sebagai bagian dari kebutuhan. uang memang bukan segalanya, tapi acara nggak bisa berjalan kalau nggak ada uangnya😀
    sejak saat itu, saya nggak mau lagi masuk tim pendanaan di sebuah kepanitiaan. hehe

    Like

    • Nisa says:

      aku inget cerita kamu sama teman-teman yang cari botol-botol bekas itu rin *mungkin di kepanitaan lain yach?
      😉 begitulah, squad team pendanaan musti strong yak ^^” saya juga kurang bakat dalam hal danus.. hehe

      Like

  7. Asop says:

    Saya jadi ingat dengan perkataan seorang teman yang kritis:
    “Dakwah untuk cari duit, apa cari duit dulu, kaya, baru dakwah?” 🙂

    Like

    • Nisa says:

      gak ada yang saya sepakati sepertinya🙂

      semua bisa berjalan bersama-sama, beriringan.. saling sembari😀

      yang jelas dakwah bukan untuk cari duit, i think

      Like

  8. kayak nisa sama nih ma tetik sekarang >_<
    semangat….

    Like

  9. anakmentari says:

    wah padahal perkara manajemen finansial itu hal yang sangat penting lho dalam membangun karakter diri, InsyaAllah yang sukses ngatur keuangan dirinya (minimal) itu bisa diandalkan untuk urusan yang lainnya…

    terkait masalah keuangan kegiatan, emang dari dulu begitu, dan akan tetep begitu… tapi akan selalu bahwa uang bukan masalah utama kegiatan, apalahi da’wah.. akan ada saatnya ketika uang tidak bisa berbuat banyak hal, tapi kalo saat ini, uang masih masalah penting..

    Like

    • Nisa says:

      benar sekali, salah satu karakteristik yang perlu dicapai ; qadirun ‘alal kasbi.. insyaAllah.. akan terus belajar mengelola..

      mungkin statement “…dan akan tetep begitu…” nya bisa diminimalisir🙂, sekarang sudah banyak kok yang melaju –kalau saya menengok rumput tetangga, sih..–

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: