. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Terbalik, Seharusnya Saya Lebih Dulu…

on 24 July 2011

Saya terenyuh dan sangat malu pada diri sendiri, ketika mereka yang kondisinya lebih sulit daripada saya, nyatanya malah memberi semangat, inspirasi, dan motivasi ketabahan.. Menyadarkan bahwa syukur adalah sebuah keniscayaan..

Terbalik, seharusnya saya lebih dulu…

# Memikirkan Kesulitannya

“Lhoo.. Dek Nisa kenapa? Kecapekan ya?”, tanya seorang mbak di kontrakan pagi itu. Daripada kesulitan menjelaskan, saya pun mengiyakannya saja.

Saya memang sedang dan akan menemui letih kala itu.. Ada kegiatan pagi hari di kampus, sedang saya yang berlaku sebagai penanggung jawab perwakilan fakultas dalam kegiatan tersebut tidak bisa melobi jadwal piket masak di kontrakan, mana belum siap secara fikriyah untuk hadapi ujian jam 10 pagi itu juga. Ditambah sisa-sisa pegal dari rempongnya hari kemarin.

Sepulang dari membeli bahan seadanya untuk sarapan para penghuni kontrakan yang tidak shaum, dari dua bola mata saya bercucuran air mata. Betapa sulitnya menahan butir-butir benig itu meleleh sambil nyeplok telur dadar. Seorang embak menyangka bahwa saya kelelahan, tidak sempat belajar, lalu menangis. Gloddaakk, batin saya. Enggak padahal. Hingga beliau memaksa membantu dan menyuruh saya segera bersiap ke kampus.

Padahal alasan saya menangis adalah karena nenek di toko kelontong tempat saya berbelanja tadi pagi…

“Beli telur tiga, pintenan Buk?”, tanya saya pada penjual berusia senja yang sangat ramah.

“Lho.. Telurnya sekarang mahal, Nak.. Kalau beli tiga harganya 3900. Mahal ya, Nak?”, jawab itu tersebut dengan raut wajah teduh pada saya. Antara rasa bersalah, ingin menolong tapi tak kuasa, ah… Nenek..

“Owhh..”, seperti biasa, sejenak saya masih mencoba mencerna situasi. Pantas saja kemarin adek di kontrakan merasa bahwa seorang penjual keliru, tepatnya kurang dalam memberi kembalian gegara harga telur.

“Kalau beli empat, cuma 4300, Nak.. Sekarang memang lagi naik, Nak.. Jadi mahal ya, Nak..”, lagi-lagi nenek tersebut seperti merasa bersalah karena harus memberi harga lebih dari biasanya.

“Saya beli empat saja kalau gitu..”

Belum berhenti di perkara telur, sang nenek memberi harga sangat murah untuk kecap merek terpercaya kemasan sachet yang saya beli. Bisa jadi setengah dari harga di tempat lain.

“Tak kasih harga segini aja, Nak…”

Lihatlah sang senja itu, Nisa.. Di hirup-hirup nafasnya yang tak lagi muda, beliau masih bersemangat menjalankan roda usaha tuk penuhi kebutuhannya. Bahkan, sang senja masih sempat-sempatnya memikirkan perasaan konsumennya ketika harga sedang naik. Tak peduli konsumen tersebut orang yang lebih punya duit atau tidak. Padahal, di lapak-lapak yang lain, tentu bukan hal yang aneh jika penjual menaikkan harga dagangannya di saat harga pasar memang melambung. Tapi tidak dengan nenek ini.. Beliau khawatir bahwa saya akan keberatan dengan kenaikan harga ini.

Ya Allah.. Seharusnya saya yang lebih dulu memikirkan kesulitannya.

Terbalik, seharusnya saya lebih dulu…

# Menghibur Hatinya

Ini cerita setahun yang lalu. Saya masih ingat betul saat dua hari sebelum UAS, saya datang ke acara selametannya almarhum kakek dan almarhumah nenek saya –semoga Allah mengampuni dosa dan menerima amal ibadahnya, aamiin— saat itu saya sekaligus menjenguk Bulik yang sakitnya semakin bertambah, beliau terbaring di kamarnya.

Bagi saya, bulik adalah seperti ibu kedua saya. Beliau selalu bercerita tentang perjuangan hidup, tentang kesabaran dan keikhlasan. Beliau sangat baik kepada keponakan-keponakannya, kami amat menyayanginya.

Dari awal saya telah berniat untuk menjenguk dan menghibur hati beliau. Namun, ternyata sesampai di sana saya malah menangis, tak sampai hati memandang wajah beliau yang semakin tirus. Saya merasa amat bersalah karena lama tidak berkunjung, tidak seperti dulu saat masih sekolah di Malang. Hampir tiap pulang dari belajar di tempat les, saya selalu mampir. Saya sering dibelikan dan diberi macam-macam, dan yang paling saya suka adalah dibuatkan jilbab. Bulik pandai menjahit. Saya pun sudah bertekad, saat kuliah ini akan belajar menjahit padanya…

“Maaf…” hanya itu yang bisa saya ucapkan malam itu, sambil menyeka air mata. Saya masih menangis, “Gak tega lihat sampeyan…” lalu bulik bilang, “Aku nggak apa-apa, Nis…”, sambil memegang jemari saya dan  menghiasi wajahnya dengan senyuman.

“Mungkin ini semua supaya aku lebih dekat kepada Allah, Nis…”, bulik kembali berkata sambil tersenyum.

Saya ingat betul, bulik sudah sakit sejak lama dan itu yang sering dikatannya. Ini yang terbaik buat bulik dan supaya bulik senantiasa lebih dekat kepada Allah. Bulik yang mengajariku untuk senantiasa menjaga waktu shalat, dan beliau dulu sering membangunkanku di sepertiga malam.

Bulik yang sakit, tapi malah Nisa yang ditabahkan. Ya Allah, semestinya saya yang mengokohkan hatinya…

~o0o~

**Dari tadi di ceritanya kok Nisa nangis terus ya =P. Nisa cengeng?


23 responses to “Terbalik, Seharusnya Saya Lebih Dulu…

  1. semoga cerita ini menginspirasi kita semua .

    Like

  2. mumtaza, luar biasa mbak. sangat menginspirasi🙂

    Like

  3. maminx says:

    subhanallah itu nenek jujur dan ikhlas banget ya. mudah-mudahan banyak pribadi seperti nenek di postingan ini. syukur alhamdulillah🙂

    Like

  4. grubik says:

    hai nisa, wah.. saya lama ora blog-blogan meneh.. Hehe, btw rodo cengeng sithik gak papa lah, wong masih muda kok.., masih bisa belajar banyak..

    Like

  5. air mata itu perlambang kelembutan hati,bersyukurlah masih bisa menangis karena rasa syukur dan kebaikan,..
    insyaallah itu menjaga hati😀

    Like

  6. fi says:

    ukh anti tulisan2nya selalu mantap2..
    kenapa tidak ikut lomba nulis saja ukh?

    Like

  7. muslimmuda says:

    Gak apa2, kadang kita didahului agar kita gak selalu merasa terdepan dalam berbuat kebaikan. Atau agar kita semakin terpicu lebih intens lagi berbuat kebaikan dan peduli🙂

    Like

  8. mamung says:

    iya ya.. kenapa banyak saudara kita yang sakit misalnya, malah mereka lebih tegar dan lebih bisa memberi hikmah dari pada kita yang diberi kesehatan..

    semoga buliknya cepet sembuh ya nis..

    Like

  9. Kakaakin says:

    Subhanallah… mereka mengajarkan kita kesabaran dan keikhlasan seperti mereka ya…
    Semoga kita dapat mengambil ibroh dari pengalaman yang ada🙂

    Like

  10. niQue says:

    sudah jarang lho penjual seperti nenek itu, biasa memang klo harga naik ya naik aja … penjualnya cuek saja. dasarnya nenek itu emang welas asih, sehingga memperlakukan pembelinya sedemikian rupa.

    Nisa, menangis gpp, dibilang cengeng biar saja🙂
    terharu itu wajar kok pertanda hatimu memang lembut.

    Like

  11. ‘air mata’ itu punya banyak Makna Sina🙂 . tergantung dari segi mana dulu nilainya,
    kalo kmu crita msalah ini ke Stalin mungkin dia bilang kamu cengeng😀 #alah
    aku juga pernah gitu😳

    itu Bulik, Ibu nya Neysa? *bener ya nama e?

    Like

    • Nisa says:

      Hehe.. iya tho, Syah..

      Yang kuceritakan ini bukan ibunya Nesya, tapi bulikku yang lain..

      Like

    • hehe, la tau cuma ibu e Nesya doank :hammer:

      abis tak baca 2 kali, aku jadi inget cerita temen d fb. mungkin agak kontras.😀

      ini kejadiannya waktu naiknya harga lombok gila-gilaan -,-a
      sewaktu dia beli gorengan, biasanya dikasih lombok berapa biji gitu. tpi kali itu ndak, malah dikasih saos. saos yang dua ribu sebotol. kata abang penjual rawitnya lagi gak musim.
      temenku langsung ‘bathin’.
      Pemerintah ternyata tidak hanya memaksa rakyatnya melarat, tapi juga mengantarkan seorang tukang goreng sampai berbohong kepada pelanggannya. Inilah fase tergelap dari sekian babak yang pernah dilalui umat muslim.

      Like

  12. Asop says:

    Hush, Nisa gak cengeng! Orang mudah menangis itu bukan cengeng! Itu tanda bahwa hatimu lembut!😳

    Like

  13. fajarembun says:

    …insyaAllah dek nisa ndak cengeng kok..😀 hehehe

    Like

  14. mudah2an bisa mengambil hikmah dari setiap kejadian yang kita alami ya mbak…

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: