. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

[Kenangan Masa Kecil]: Di Kebun Hijaiyah

on 5 September 2011

Seperti anak-anak muslim yang lain, semenjak kecil saya sudah diajari membaca al-qur’an. Pada zaman itu metode belajar yang saya kenal adalah dimulai dengan belajar membaca buku Iqro. Mulai dari pengenalan huruf-huruf hijaiyah dan cara pelafalannya, tanda baca, berlatih membaca tiga atau empat huruf yang disambung, hingga hukum bacaan.

Saat masih balita, saya mengikuti kelas Iqro di SD Muhammadiyah dekat rumah. Namun, karena sahabat bermain saya yang biasa kupanggil Ranti belajar mengajinya di TPA Permata Hati yang bermarkas di Masjid Ulul Albab di RT tetangga, maka daripada tidak bisa belama-lama bermain dengannya, akhirnya saya pun mengajukan proposal kepindahan pada ibu dan ayah.

“Pokoknya aku mau ngaji sama Mbak Ranti di TPA!”

Nah.. Karena jarak TPA tersebut yang memang lebih dekat daripada kelas Iqro yang lama, tentu ibu dan ayah memperbolehkan. Cihuuyy.. pengajuan gugatan pindah lebih mudah dari yang kukira.

Jreng-jeng-jeng!

Hari pertama kepindahan saya di TPA Permata Hati. Dag dig dug menyelinap di lorong-lorong rasa. Saya mencoba mengenali santri-santri TPA yang hampir semuanya adalah anak-anak dari penduduk Perumahan Muara Sarana Indah. Sungguh, saya merasa tidak nyaman hari ini. Apalagi baju yang saya kenakan berbeda dengan para santri TPA yang ternyata mengenakan seragam padu padan hijau tua dan hijau muda.

Bukan hanya pakaian, melainkan tas jinjing yang dipakai teman-teman pun mayoritas bermerk “TPA Permata Hati”. Wah.. Namanya anak kecil, kebanyakan tentu ingin memiliki apa yang dipunya kawan-kawannya. Meski ini perkara sepele, tetapi gemuruh tidak nyaman dalam hati saya terus tersulut dan meletup.

Seperti biasa, ekspresi tidak suka langsung meluap di rumah. Ibu dan ayah pun menjanjikan akan mengusahakan seragam yang sama untuk saya. Meski tak sepenuhnya saya menuntut untuk dipenuhi, karena saat itu saya cukup mengerti bahwa tentu ibu dan ayah perlu banting tulang lebih keras untuk mendapatkannya. Di satu sisi Nisa kecil tak mau membebani ibu dan ayah, di sisi lain ia tidak mau jadi makhluk yang tampak paling berbeda di kelas TPA.

“Kata Bu Guru di TPA, persediaan tasnya habis.. Nanti ibu belikan tas yang mirip aja gak papa ya, Nis.. Kalau seragamnya bisa njahitkan, Nis.. Besok ikut ibu ngukur baju ya?”

Tempat pemesanan seragam ternyata di rumah teman ngaji bernama Nida. Ibunya Nida yang bercadar itulah yang akan menjahitkan seragam saya. Meski tidak berhasil mendapatkan tas jinjing berbahan kertas tebal seperti milik teman-teman, tetapi baju seragam ngaji siap menanti. Alhamdulillah ibu tidak keberatan soal seragam ini, toh sekalian bisa dipakai sebagai busana muslim sehari-hari. Rampung sudah perkara administrasi dan tetek bengeknya.

~oOo~

Masjid itu masih sangat sepi. Tentu saja, ini masih jam dua siang. Namun, siapa kira gadis kecil berumur lima tahun itu sudah bersiap dengan seragam baru nan rapi. Segar karena sudah mandi dan tampak lucu dengan bubuk bedak tebal menutup wajah.

Persiapan itu saya lakukan seorang diri setelah melarikan diri dari perintah tidur siang yang dititahkan oleh orang tua. Kasihan ayah yang sudah bersusah payah bercerita tentang si kancil mencuri ketimun dan perjuangan timun mas yang dikejar-kejar sama buto ijo, tetapi malah saya tinggalkan begini.. Ayah dan ibu menginginkan saya tidur siang mulai jam 13.00 sampai menjelang ashar, baru setelah itu bersiap berangkat ke TPA yang memang biasa baru dimulai ba’da ashar, sekitar jam 16.00. Namun, apa boleh buat, nggak mau tidur ya nggak mau.

Ibu dan ayah saya pun heran, emang ngapain aja sih sejak jam dua siang sampai jam ngaji dimulai? Kok lama bener rentang waktunya..

Ternyata yang saya lakukan adalah menjemput sahabat-sahabat saya ke rumahnya. Jumlah yang dijemput kondisional, tetapi biasanya sih cuma dua atau tiga orang saja. Lama betul ya prosesi penjemputan ini. Karena yang saya lakukan bukan sekadar menghampiri dari rumah ke rumah teman-teman yang sudah siap, melainkan turut berperan dalam upaya membangunkan mereka dari lelap tidur siang dan menunggu mereka mandi serta bersiap-siap.

Kalau mereka susah dibangunkan ya otomatis adegan jemput-menjemput ini akan semakin lama. Setelah teman pertama sudah beres, maka dia akan saya ajak untuk melakukan hal yang sama di rumah teman kedua. Yakni membangunkannya dari tidur lalu menunggunya mandi dan bersiap. Jika sudah rampung, maka kedua teman ini akan saya ajak ke rumah teman ketiga untuk melakukan hal yang sama (lagi!). Hehe.. kurang kerjaan betul ya Nisa ini..

Usai sholat Ashar, antrian menyetorkan bacaan iqro pun dimulai. Yang terpenting adalah selalu hadir di kelas TPA dan rajin mengulang-ulang di rumah, insyaAllah cepat lancar. Begitulah kira-kira pemahaman yang terpatri dalam benak saya. Lalu pada kelas 2 SD akhirnya saya menyelesaikan jilid 6 buku Iqro. Tidak seperti TPA lain, di mana terdapat wisuda bagi santri TPA yang usai mengkhatamkan jilid 6, seingat saya saat itu tidak ada. Kalau sudah selesai ya langsung mengaji Al-Qur’an.

Hari-hari berlalu begitu saja tetap dengan kesungguhan saya hampir setiap hari menjemput teman-teman dari rumah ke rumah. Namun, karena semenjak kelas 3 SD saya pulang dari sekolah jam satu siang, kadang saya pun pulang sudah dalam keadaan lelah hingga tertidur sampai ashar. Maka Ranti yang kali ini datang membangunkan saya di rumah dan menunggu saya bersiap. Saat seperti itu, saya merasa ada sesal yang tidak nyaman.

~oOo~

Kini beban pelajaran di sekolah semakin berat. Selain sampai di rumah sudah hampir jam dua siang, setiap hari ada bejibun tugas rumah. Aktifitas tidak tidur siang, prosesi penjemputan teman, dan mengaji ditambah bermain akan sangat berpengaruh pada kondisi penggarapan tugas di malam hari. Ngantuk dan tertidur..

Bukannya lebay, tapi saya dulu sangat takut keluputan menggarap pekerjaan rumah. Hal ini bukan cuma terjadi pada saya, tapi juga teman-teman di sekolah. Sampai-sampai tiap malam saya dan teman-teman hampir selalu saling menelepon untuk memastikan list tugas yang harus dikumpulkan besok.

Kondisi ini yang membuat saya mengibarkan bendera putih, secara bertahap saya mempersering absen di kelas. Hingga saya memutuskan untuk berhenti dari TPA Permata Hati, kalau tidak salah saat kelas 4 SD. Saya pergi tanpa berpamitan dengan ibu guru-ibu guru yang ada di sana. Tanpa mengucap bait-bait perpisahan pada teman-teman yang belakangan sudah semakin akrab, hingga kami menjadi satu tim sepak bola dalam sebuah kejuaraan tujuh belas agustus. Hingga masa-masa liburan sekolah kami habiskan bersama dengan membuka perpustakaan komik kecil dan menangkap ikan.

Tanaman di kebun hijaiyah itu kini tercerabut satu. Ia masih ditanam pada kebun serupa, pada jengkal tanah yang berbeda..

~oOo~

Niatnya mau diikutkan ”Proyek Nulis Buku Bareng : Kenangan Masa Kecil ” informasi lebih lanjut silahkan buka  http://on.fb.me/nRmEPz

Eh.. Tapi untuk sebuah kenangan masa kecil, tulisan ini kok rasanya terlalu serius ya ~__~. Monggo kalau mau diberi masukan, saya pun masih mengorek-ngorek ide dan ingatan. Karena banyak kenangan yang nggak jelas detail ceritanya seperti apa:mrgreen:

Ayuukk, kawan-kawan yang lain juga turut mengirimkan memoar masa kecilnya ya ^^


17 responses to “[Kenangan Masa Kecil]: Di Kebun Hijaiyah

  1. saya sendiri says:

    kurang lebih ceritanya sama dengan masa kecil saya juga..
    sering banget pindah2 tempat ngaji krn berbagai alasan, dan akhirnya saya dapat bekal belajar membaca Alqur’an ini-itu (tajwid dll), saya mengkhatamkan Qur’an sendiri di rumah deh🙂

    Like

  2. masa kecil meninggalkan banyak kenagan di hidup ini .

    Like

  3. wow,hebat. mbak nis.

    Like

  4. oke juga nie artikel nya sangat menarik nie gan……………..

    Like

  5. sungguh kisah yang sangat indah. alhamduliallah yah,
    walaupun ceritanya sedikit berat,hehe
    tapi ini membangkitkan pula kenangan saya semasa kecil..
    makasih bnyak yaa,, terus berkarya dan semoga sukses !!

    Like

  6. arif says:

    ya, sepertinya beberapa kata jd “kurang ringan” alias “berat” hehe…selamat meneruskan proyek menulsinya ^_^

    Like

  7. massol507 says:

    Wah sama dengan saya, saya dulu 3 kali sekolah Arab tidak pernah lulus
    1. Sekolah Diniyah Sore tidak bisa lanjut gara-gara pindah malam.
    2. Sekolah TPQ Setingkat diatas TPA cuma sampe kelas 2 gara-gara jamnya sama dengan sekolah reguler di SMP yg masuk sore
    3. Sekolah Diniyah Malam tidak lanjut waktu kelas 3 gara-gara pindah provinsi waktu lulusan SMP

    Yah meskipun tidak sampai lulus paling tidak kita sudah mendapatkan ilmu dari guru2 kita, tinggal bagaimana mengamalkannya.🙂
    makasih

    Like

  8. salam kenal….
    begitu indahnya,bila kita mengenang masa lalu….
    masa yang tidak bisa terulang kembali,hanya bisa di kenang.

    Like

  9. molen says:

    hehe, enak ya mengenang masa kecil. dulu saya mengajinya ba’da magrib, sering bolos juga karena film kartun di televisi

    salam kenal

    Like

  10. @helgaindra says:

    gajauh beda sama saya
    cuma saya ga make iqra tapi make albarqi
    sejenis alquran mini gitu tapi hampir sama kaya iqra

    ceritanya masa kecil banget yah
    kebayang

    Like

  11. dida says:

    semangat ya nis untuk proyeknya😀 ganbarimashou!

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: