. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Siluet Ramadhan

on 12 September 2011

ini foto di Pantai Kenjeran😀

~oOo~

“Mbak Nisa, nggak pingin jalan-jalan, tho?”, Dek Binti yang saya bonceng tiba-tiba bertanya.

“Ke Mana, Dek?”

“Yo.. Ke mana gitu?”

“Kenjeran, Yukk?!!”, ujar saya spontan.

Sipp. Maka kami segera mendekat pada Mbak Memey yang membonceng Dek Ambar, mereka berkendara pelan di depan kami.

“Mbak! Jalan-jalan yookk?”

“Ke mana?”

“Kenjeran!!”

Akhirnya kami berempat, di sebuah pagi yang redup, pada detik-detik di mana Ramadhan kan beranjak dari tahun ini.. Sepulang dari Masjid Nuruzzaman, kami memutuskan untuk rehat sejenak di pantai. Meski Kenjeran tak lagi bersih dan tak pula dianggap “Wah”, tetap saja, bagi kami dapat berkunjung ke sana merupakan sebuah kenikmatan. Dan semoga berbalut berkah dengan tadabur pagi itu.. ^^

Di tepi pantai, kami mengamati nenek-nenek yang mengumpulkan cangkang kerang – cangkang kerang bewarna putih. Menadahinya pada ember kecil lalu mengumpulkannya pada tumpukan kerang yang lain di tepi pantai.

Tak ingin hanya melihat, tanpa pikir panjang kami berempat turut terjun ke sana. Mengikuti sang nenek mengumpulkan kerang bewarna putih untuk sang nenek, sambil sesekali mengambil kerang yang bewarna-warni dan berbentuk lucu untuk kami bawa pulang. Buat oleh-oleh keponakan Dek Ambar dan saya juga bawa untuk adek saya di rumah. Sisanya masih di kontrakan, kalau teman-teman mau..😀

Semakin siang, ombak semakin kencang, sampai sepatu dan kaos kaki saya harus rela terkena asin sang air laut. Nenek tersebut hanya terkekeh melihat kehebohan kami berempat, disambut dengan tawa dan gurau dari pengumpul cangkang kerang yang lain.

Mentari terasa lebih hangat, kami pun teringat agenda-agenda di kampus. Kami berpamitan pada nenek dan memberikan hasil pencarian kami pada beliau. Yang semula saya kira bahwa kerang tersebut digunakan sebagai bahan baku kerajinan pernak-pernik kerang, ternyata dari nenek kami tahu bahwa kerang-kerang ini akan didistribusikan ke pabrik lantai keramik yang ada di Gresik. Kerang-kerang ini akan dijadikan campuran pada keramik.

Dek Ambar penuh penasaran bertanya, “Ini dihargai per kilo, Mbah?”

“Nggak nak, mung sekedik kok.. Sedikit.. 1500 per sak karung..”

Mata kami sampai terbelalak.. Subhanallah.. Sekarung besar hanya dibeli dengan 1500 rupiah?? Sang nenek menambahkan, bahwa pekerjaan ini masih beliau pertahankan karena daripada menganggur, tidak ada yang digunakan untuk makanan dan kebutuhan sehari-hari karena beliau tinggal sendirian… Tidak ada anak atau orang lain yang membantunya memenuhi kebutuhan tersebut..

😥

#Episode 25 Ramadhan 1432 H, ditulisnya barusan saja..


6 responses to “Siluet Ramadhan

  1. arif says:

    kenjeran di gresik ya, saya jrang main2 ke jatim seeh, hiks jd malu

    Like

  2. rumahniefha says:

    😥
    moga barokah ya, Mbah..

    Like

  3. fi says:

    😦
    kita beruntung..

    kapan ya nama “dek fi” bisa muncul di cerita mbak Nisa, hehe..
    *btw ana ga bisa bawa motor.. -.-

    Like

  4. Pelajarannya adalah bahwa kita harus tetap bekerja walau penghasilan kecil. Namun tidak menutup kemungkinan untuk memperoleh peluang hasil besar di kesempatan yang lain. Tetap bekerja dan berusaha sambil melihat peluang dan kesempatan untuk yang lebih baik.

    Like

  5. phiy says:

    jadi inspirasi buat kita semua, terutama para pekerja dengan gaji kecil. Nenek aja masih mau berusaha, ngga mau minta-minta..🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: