. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

K.a..k…u!

on 21 September 2011

Ba’da Maghrib hari Senin lalu adalah kali pertama saya bertugas dinas mengajar les privat menggantikan Mbak Nani yang kini jadwal kuliahnya bisa sampai malam. Kakak beradik bernama Nisa siswi kelas 1 SMPN 45 Surabaya dan Zaki siswa kelas 3 SD mengapit di kanan dan kiri saya di sebuah ruang tamu.

Satu hal yang mendominasi perasaan saya adalah… KAKU. Entah mengapa saya kok jadi merasa tidak bisa belajar bareng adik-adik begini ya.. T__T Masih mending saat tahun pertama saya berkuliah di Surabaya dulu, saya sempat belajar mengajar anak-anak TPA (Taman Pendidikan Al-Qur’an) yang super aktif dengan beragam latar belakang keluarga dan sempat juga selama setahun beramanah menjadi anggota pelaksana pembinaan bagi adik-adik binaan SANSA (Sayang Anak Bangsa) Unit Kegiatan Mahasiswa Kerohanian Islam.

Sedikit demi sedikit saat itu saya mulai belajar memahami bermacam-macam tipe anak. Karena memang sangat berbeda dibandingkan berinteraksi dengan adik kandung saya sendiri di rumah, meski cuma pulang ke rumah sebulan sekali atau lebih pun saya tetap bisa cair dan heboh kalau sama dia😀.

Lalu di tahun kedua, saya vakum dari aktivitas belajar bareng adik-adik. SANSA sudah bergabung secara manajerialnya dengan SOSKEM (Sosial Kemasyarakatan) dan bertransformasi menjadi YANSOS (Pelayanan Sosial) UKMKI. Di wajihah tersebut amanah saya adalah di bidang kaderisasi, hingga akhirnya saya sangat jarang berinteraksi langsung dengan adik-adik SD binaan dan adik-adik binaan di kampung Kayoon. Bahkan selama setahun itu, tak sekali pun saya pernah bertugas di pembinaan rutin. Bukan hanya itu, karena bermacam hal pula saya juga mandeg dari rutinitas di TPA.

Di semester 5 ini, diam-diam ‘obsesi’ belajar bersama dengan adik-adik rasanya kembali berkobar. Apalagi usai pulang dari sekadar melihat saudara-saudara saya beraksi secara sukarela mengajar anak-anak kecil di sebuah kampung di Kalijudan. Bermula dari seorang adik angkatan yang merintis sebuah organisasi yang berfokus pada ‘pengabdian masyarakat’, kini aktivitas belajar mengajar dengan metode “happy study” sudah dijalankan oleh teman-teman di kampung tersebut. Bahkan didukung penuh oleh Pak dan Bu RT beserta warga-warga yang lain, hingga kami mendapatkan pinjaman tempat untuk mengajar. Barokallah…

Mengajar itu berbeda dengan presentasi di depan kelas

Mengajar tidak sama dengan berargumen dalam forum syuro/rapat

Mengajar bukan sekadar transfer informasi

Dan saya lebih nyaman menyatakan diri belajar bersama ^__^ karena sungguh inspirasi dan pelajaran itu datangnya dari siapa pun, tentu saja termasuk dari adik-adik bahkan yang kesehariannya berjibaku di jalanan sekali pun..

Finally, saya mengiringi pamitan pulang tadi pada ibunya Dek Nisa dan Dek Zaki dengan ucapan terima kasih khususnya karena saya diberi bekal makan malam (hiks terharu) dan permohonan maaf karena saya belum bisa menjadi teman belajar bersama yang menyenangkan. Beliau pun mengakui kalau saya masih kaku dan ndak jadi masalah asal sambil terus belajar memperbaikinya.

‘’^^a

Tantangan selama beberapa hari ini adalah bagaimana membuat mereka merasakan belajar semanis cokelat, duhh.. PR nih buat saya. Kedua adek tersebut pulang dari sekolah sudah sore betul dan tentu ba’da maghrib sudah mulai datang rasa kantuknya. Tantangan yang lain adalah…. Sering sekali saya jumpai mereka mengerjakan tugas yang sumber materinya tidak ada di buku paket, LKS, atau catatan T___T akhirnya saya harus ekstra mengorek ingatan dan jadi kepikiran kalau tidak nemu jawabannya.. Hadeehh.. Nisaa >____<


10 responses to “K.a..k…u!

  1. Rumah says:

    Jadi seorang Guru Tanggung Jawabnya besar …
    tapi amalnya juga besar …

    semangat terus kang ^_^

    Like

  2. tetap semangat, barokallahufikum…

    `Mengasah insting menjadi ibu yang baik

    Like

  3. arif says:

    masih kaku? perlu dilemaskan dgn latihan yg banyak, practice make perfect gt deh katanya he3

    Like

  4. ralat: selagi ruh masih dikandung badan….

    Like

  5. wah, jadi bu guru nih ceritanya.. >,<
    apalagi dapet makan malem plus oleh2 tiap kali pulang.. leres mboten Dek..??

    jadi inget pengalaman saat mbak gabung dg salah satu Bimbel di Solo, 4 tahun lamanya jd guru privat (klo ga salah, sejak kuliah semester 2)
    ada dukanya, tapi banyak senengnya dek…

    Hamaasah dek.. ! manfaatin waktu+ilmu yg kita punya.. selagi jasad masih dikandung badan…

    Like

  6. Asop says:

    Nah, mari kita terus belajar.🙂

    Semangat, Nis!😳

    Like

  7. phiy says:

    aku yakin ngajar TPA punya kesulitan tersendiri. Apalagi ngadepin anak-anak bocah, butuh kesabaran dan teknik super supaya bikin mereka mau belajar. Semangat ya nisa. Ilmumu bermanfaat banget tuh🙂

    Like

  8. Irfan Handi says:

    Tetap semangat bu...

    Like

  9. jadi pengajar tanggung jawabnya besar😀

    mungkin itu satu alesan kenapa ‘ilmu’ yang bermanfaat termasuk amalan yang terus ‘mengalir’ walau jiwa dan raga sudah tidak bersatu. CMIIW

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: