. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Sekadar Catatan Usang

on 23 November 2011

Jika boleh aku menyampaikan sedikit resah..

Padamu kawan, mahasiswa..

Kaum intelek, lumbung arsitektur peradaban.

Padamu kawan, pemuda-pemudi dengan kepedulian seluas samudera.

Sekawanan muda-mudi riuh berhura-hura dalam sebuah pesta. Dengan musik yang diputar pada volume sekian desibel, bercampur antara yang laki dan perempuan tanpa tahu malu. Girang bergoyang lupa waktu hingga segala kewajiban tak tertunaikan. Di sudut yang lain, lagi-lagi tanpa tahu malu, pemudi-pemudi dengan pakaian mengikuti tren yang makin tak karuan, menjajakan dirinya dalam rumah prostitusi demi lembar rupiah yang hina.

Kemudian pada berita yang lain, seorang pemuda nekad mencuri laptop temannya, untuk berhala bernama uang yang hendak ia belanjakan untuk beberapa gram shabu-shabu. Padahal nun jauh di kampung halaman, ayah dan ibu yang kesehariannya sebagai petani berpeluh payah mengerahkan balung-balung perkasanya demi cita-cita mulia sang rantau, menangis di tiap ujung malam demi keberkahan langkah dan kesuksesan pemuda tadi.

Siapakah muda-mudi beliau itu? Di antaranya banyak yang menyandang amanah sebagai mahasiswa. Yang mungkin bisa dibilang mereka temanmu, temanku juga. Teman kita.

Pada frame yang lain, lewat cerita di weblog, video, hingga bertemu langsung bahkan bersahabat. Kutemukan sosok-sosok yang lain, yakni mereka yang totalitas tanpa batas dalam menyelami ilmu, mengukir karya dan prestasi. Mereka yang gilang-gemilang memukau itu juga teman kita. Para mahasiswa berprestasi. Yang salim aqidahnya, shahih ibadahnya, baik akhlaknya, kuat jasmaninya, intelek dalam berpikir, bisa mengendalikan hawa nafsunya, pandai menjaga waktu, teratur urusan-urusannya, punya kemampuan usaha mandiri, dan tentu memberi banyak kemanfaatan bagi orang lain. Sosok generasi rabbani tulen.

Pada jengkal yang berbeda lagi, kutemukan keganjilan kepribadian melalui mereka yang bisa memainkan kedua peran bertolak belakang sekaligus. Soal perkuliahan cerdas bukan main tapi mengaji selalu enggan, di kampus tampak santun dan pemalu ternyata hobi dugem, yang super kompak dalam berteman ternyata landasannya cuma sebatas asik diajak nongkrong dan banyak duitnya. Yang ajaib juga itu adalah aktivis-aktivis yang ngakunya giat berjuang untuk ummat, tetapi membaca buku pun enggan. Ada pula yang katanya bersemangat membuat perubahan untuk negeri lewat organisasi mahasiswa, tetapi kuliah sering telat bahkan tugas terlewat.

Kehidupan mahasiswa sungguh menawarkan warna-warni yang beragam. Tapi aduh, seenaknya saja ya saya menengok kebun-kebun tetangga, kehidupan kawan-kawan saya. Tanpa bercermin melihat proses dan pencapaian diri. Lalu bagaimana dengan saya sebagai seorang mahasiswi?

Sejenak saja, izinkan saya bermuhasabah terhadap bait-bait perjalanan di sebuah moment kehidupan bertajuk “kuliah”. Saya tidak seperti kawan-kawan luar biasa yang gigih berjuang untuk meraih kesempatan mendapatkan sebuah bangku terbaik di sebuah universitas, baik dari segi perjuangan melawan keterbatasan materi maupun persaingan menembus PTN serta jurusan bergengsi.

Saat itu saya tidak memiliki kobaran juang seperti kepunyaan mereka. Pada SNMPTN 2009 lalu, saya tidak berani bermimpi begitu tinggi hingga saya hanya sekadar memilih jurusan yang saya kira mampu mencapainya. Terlebih lagi, saya berada dalam zona nyaman dari orang tua yang insyaAllah masih bisa mengusahakan biaya kuliah hingga saya tak perlu pusing memikirkan biaya.

Seiring berjalannya waktu perkuliahan juga masih belum ada lejitan yang signifikan. Saya bukan mahasiswa dengan indeks prestasi sundul langit, bukan pula ahli PKM yang proposalnya selalu lolos didanai, juga belum pernah berkarya dengan penelitian-penelitian. Di bidang organisasi pun, meski saya cukup aktif tetapi tetap saja kualitas menunaikan amanah di sana masih acak adut di sana-sini. Dalam urusan bisnis pun juga susah sekali mau memulai. Bahkan pada kelas tahfidz quran saya kerap membolos tanpa izin. Mau mendaftar sebagai calon MAWAPRES pun ciut nyali karena Bahasa Inggris yang terbata-bata.

Lantas jejak seperti apa yang telah saya ukir selama ini? Padahal Allah memerintahkan kita untuk berusaha sebaik mungkin, hingga pada titik di mana kita memang tidak bisa meraihnya lagi. Lebih baik berjalan puluhan kilometer untuk mencari air daripada menyerah ditempat lalu mati kehausan, bukan? Kini saya menyadari bahwa kenyamanan zona juga merupakan ujian, sehingga perjuangan tak harus dimulai dari keterhimpitan. Sejarah tak pernah mengungkapkan bahwa orang-orang yang sukses mengisi masa mudanya dengan berleha-leha. Saya ingin mengejar segala ketertinggalan dan berupaya memperbaiki diri.

Momentum kuliah ini merupakan salah satu nikmat yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Sebagai wujud syukur atas nikmat ini, maka integrasikanlah keilmuan yang diperoleh di bangku kuliah untuk membela agama Allah. Sampaikanlah risalah dan nasihat Allah melalui pendekatan kemanusiaan, lewat kepakaran yang dimiliki.

Genggam keunikan yang ada di tiap kepakaran itu kemudian tentukan sendiri apa warna yang kau pilih untuk mengecat dinding hati dan dinding hari-hari sebagai mahasiswa. Yakinkan bahwa warna keimanan dan karakteristik-karakteristiknyalah yang kau pilih. Hingga Allah, Rasululullah, dan orang-orang beriman kan menyaksikan sekuel kehidupan perkuliahanmu sebagai masa yang diridhoi-Nya, insyaAllah..

“Ya Allah, jadikanlah kami hamba yang berprestasi di akhirat dan di dunia, aamiin..”


15 responses to “Sekadar Catatan Usang

  1. Persaingan atau kompetisi pasti ada dalam kehidupan kita bersama orang lain termasuk dalam bisnis, olah raga atau bidang yang lainnya .

    Like

  2. dida says:

    amiinn.. semangat nisa ^_^v

    Like

  3. niefha says:

    waah.. catatan anak muda banget nih !
    Semangat kawula muda. hihihi..

    Lanjutkan dek!

    *nyadar perbedaan umur diantara kita

    Like

  4. mau ikut ormawa tapi ndak ada waktu😦

    Like

  5. tuaffi says:

    Hmmpphh.. saatnya saya juga berbenah diri..

    Like

  6. mengamini doa yang dipanjatkan.

    Begitulah warna warni kehidupan yang ada skarang, di satu sisi ada yang benar2 bertanggung jawab, namu di sisi lain ada yang lalai.
    smoga kita termasuk ke dalam orang2 yang tidak lalai

    Like

  7. abi_gilang says:

    Memang benar masa2 di bangku kuliah adalah masa penuh idealisme dan ghiroh yang tinggi dalam melakukan segala aktifitas (tentunya yang positif) kalau udah lewat rasanya seperti menyesal jika tidak meninggalkan jejak yang sebaik-baiknya. Selamat berjuang ukhti….salam kenal!!!

    Like

  8. ahsinmuslim says:

    amin ya Robbal ‘alamin. berbeda itu unik. perbedaan karakter manusia menjadikan kehidupan ini lebih berwarna. adanya orang berperilaku buruk, memberikan peluang bagi kita untuk mendulang pahala dari amal kebaikan. semoga kita senantiasa menjadi pribadi-pribadi yang istiqomah melangkah dijalanNya yang lurus. amin

    Like

  9. amin…
    insyaAllah bisa, tetap semangat dan terus berjuang,

    dan akhirnya semoga selalu dapat memberi,
    hingga nanti dibatas waktu.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: