. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

[KKN Story] Proyek Qowwiyul Jism

on 21 February 2012

Bismillah.. Saya mau bercerita sedikit, boleh ya?😀

Gulungan kecil riak ombak sempat terpercik sebelum hari KKN tiba. Bertepatan dengan Ujian Akhir Semester (UAS), gejala tipes menghinggapi tubuh lemah saya. Beberapa mata kuliah tidak bisa dipelajari dengan maksimal. Apalagi dua ujian pada hari Rabu di mana saya “tepar”: EPG (Ekologi Pangan dan Gizi) serta PE P2KM (Perencanaan dan Evaluasi Program Promosi Kesehatan Masyarakat), hampir tidak belajar sama sekali. Hingga ibu saya berkunjung ke Surabaya untuk memastikan bahwa saya sudah sehat saat berangkat KKN beberapa hari ke depan.. Gak tega sama ibu..

Mendalami keilmuan kesehatan masyarakat tapi gampang tepar. Ckckckk.. padahal seorang muslim harus “Qowwiyul jism, Nisa! Qowiy!”, artinya memiliki jasmani yang kuat. Kalau sudah berseru riuh dalam sanubari hati begini artinya saya sedang menyemangati diri sendiri. Hiks.. Saat KKN nanti harus ada kemajuan kesehatan jiwa dan raga :D/

* * *

H-1 KKN. Alhamdulillah, sudah sangat sehat ^^/

Sepeda ontel mini kiriman dari paklek saya untuk dipakai di desa KKN tiba sore itu, diantar becak.. Padahal saya baru pulang dari mengantar Dek Ambar ke Plasa Marina dan beli kasur gulung untuk KKN di Pasar Kapas Krampung. Lelah sebenarnya, tapi sepeda mini sudah datang, bagaimana pun sepeda ini harus disiapkan untuk di desa KKN nanti.

Yang pertama kali saya periksa adalah, sepedanya tinggi enggak ya? Saya terbiasa naik motor matic yang jika berhenti cukup dibantu dengan kedua kaki mendarat di tanah secara langsung. Nah, kalau sepeda ontel yang tinggi kan biasanya ada maneuver turun dari tempat duduk sebelum kaki mendarat, itulah yang saya tidak bisa..

Ternyata masih cukup tinggi.. Baiklah, ayo berlatih naik ontel menuju danau kampus C. Sore-sore mengayuh…

Agak gugup dan deg-deg an, rasanya hampir tidak bisa menghentikan sepeda atau harus berhenti dengan mengambrukkan sepeda, menjatuhkan diri sendiri.. Oh tidak.. Saya seperti bocah ilang di kampus, belajar sepeda sendirian dengan penuh ketakutan. Tidak seperti masa kecil dulu yang penuh keberanian, berani berdiri dan kembali nyengir jika jatuh.. Sekarang berbeda sekali sensasinya. Malu aku pada masa kecil yang lebih berani bangkit dan berdiri ketika jatuh, kenapa sekarang jadi takut jatuh begini, fiuh..

Hari semakin sore. Senja turun mewarnai langit yang merona indah. Saya memutuskan pulang dengan menuntun sepeda dari dekat gerbang keluar saja sembari mencari tukang servis sepeda. Buat apa lagi kalau bukan merendahkan posisi sadel/tempat duduk si ontel merah, hehe..

Alhamdulillah ketemu! Dengan seribu rupiah, sepeda sudah lebih rendah dan bisa kukayuh lebih leluasa menuju kontrakan ^^/. Sampai di kontrakan dengan wajah merah berpeluh. Disambut tertawa keheranan dari kawan-kawan. Heran dengan ketidakmahiran saya berontel..

“Cuma mendarat aja gak bisa, Mbak Nisa? Aneh banget Mbak Nisa iki..”

“Aneh-aneh aja, cuma begitu pakai latihan..”

“Gagal tapi, akhirnya menyerah. Sekarang sudah dipendekkan sampai kakiku bisa mendarat di tanah secara langsung!”, jawabku.

* * *

Hari H keberangkatan.

Bis sudah hampir berangkat. Semua barangku sudah hampir terangkut kecuali sepeda mini. Aku kembali ke kontrakan lalu mengayuhnya dengan penuh semangat menuju kampus lagi, membayangkan nanti bersepeda di desa. Di saat yang lain sudah berkerumun di area sekitar bis, dari kejauhan, sambil berjas almamater rapi saya masih sibuk mengantarkan sepeda menuju truk pengangkut kendaraan roda dua. Sip, Alhamdulillah.. terangkut!

Padahal saya sudah dapat tugas dari kelompok untuk membawa motor matic sebagai salah satu alat transportasi kelompok, tapi tetap saya tambahkan juga si ontel:mrgreen:

* * *

Pagi yang sejuk, yang kadang kala berkabut..

Senangnya dengan suasana di desa.. Proyek riyadhoh alias olahragaku sepertinya ada kemajuan jika dibandingkan dengan saat di Surabaya. Di desa lebih asik jogging dan bersepeda ^________^/, meski tidak bisa rutin, setidaknya beberapa kali ini sudah jauh lebih baik ketimbang prestasi burukku dalam berolahraga saat di Surabaya.

Baiklah. Panggil saja sepeda mini ini dengan nama QOWIY, artinya kuat. Maknanya, agar ketika aku mengayuhnya, ragaku bertambah kuat. Juga azzamku untuk meraih tujuan bisa terasah, mejadi lebih kuat.. Si Qowiy menemani hari-hari KKN kami, ke tambak, menuju sekolah, melewati area sulit seperti di Dang Mati, juga menuju puskesmas pembantu. Dibonceng Ukh Dini dalam “Perjalanan tak tergantikan”, hingga di akhir gearnya rusak dan menyulitkan pengemudinya karena berat dikayuh ~__~

Ternyata di dalam KKN, saya punya kok program kerja pribadi ya, proyek untuk mencapai salah satu muwashofat kader “Qowwiyul Jism” di antaranya melalui bersepeda ontel di desa😀, jogging, jalan-jalan, dll.

Semoga berkah dan ridho Allah senantiasa iringi hari-hari kita ^__^v

ps : Yang paling bawah itu foto sepulang dari Puskesmas Pembantu, usai berjalan keliling desa untuk pendataan bersama ibu bidan dan tim kesehatan.😀


6 responses to “[KKN Story] Proyek Qowwiyul Jism

  1. ouw😮
    Sina lupa cara menghentikan sepeda ‘ontel’? hehe

    seru ya kayaknya🙂

    Like

  2. Wah, KKN itu pengabdian yg menyenangkan
    Sayang dulu kakak gak pernah KKN, kakak memilih penggantinya dengan yg lain🙂

    Salam semangat selalu ya dik🙂

    Like

  3. sarungbiru says:

    semua memang perlu dipelajari dan dipraktekkan ya ukh….

    salam blogger….
    kalo berkenan silahkan berkunjung ke rumah saia…
    http://sarungbiru.wordpress.com

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: