. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Gumamku tentang SMS

on 19 May 2012

Menjalin ikatan ukhuwah selalu punya tantangan. Hal yang mungkin terdengar sepele, tapi di saat berhadapan dengan persaan, bisa jadi berabe.. Meski sekadar perkara SMS, mbak bro! (khususnya seperti kami yang lebih banyak koordinasi pakai SMS, enggak punya BB ^^)

Case #1

Pernah nggak, ngirim SMS penting (misalnya ada kaitan dengan koordinasi amanah yang waktunya udah mepet) kepada seseorang tapi tak kunjung dibalas, hingga kita mengirim ulang dengan penegasan yang berbeda, ternyata belum dibalas lagi, lalu kita ulang mengirim SMS lagi, tetapi belum juga dibalas?

Apa yang terpikirkan saat mengalami hal tersebut? Mencoba berbaik sangka, membuat lebih dari 70 kemungkinan prasangka baik. Semisal, oh.. mungkin tidak ada pulsa dan belum sempat mengirim dari HP teman.. Oh.. mungkin masih sibuk, mungkin HPnya sedang mati dan chargernya rusak, dan seterusnya.

Yah.. tapi kalau hati sedang keruh, bukan tidak mungkin jika prasangka buruk yang timbul.. “Jangan-jangan SMS penting ini tidak dianggap penting sama yang bersangkutan..”, merasa tidak dihargai, dan seterusnya.

Entahlah, tapi daripada malah terkuras energi jika mendramatisir kondisi yang kedua, yakni prasangka buruk, yah juga ndak akan menyelesaikan masalah, kurasa.

Mungkin yang perlu dilakukan agar terhindar dari kondisi praduga buruk tersebut adalah :

  1. Ucapkan istighfar dan ta’awudz agar nafsu tidak mengendarai kita menjadi sulutan emosi.
  2. Introspeksi diri. Barangkali kita kerap melakukan hal serupa, yakni meremehkan SMS penting, menunda membalas SMS, dan sebagainya.. Hm.. it all come back to us..
  3. Introspeksi diri lagi. Apakah isi SMS sudah tepat dan sesuai dengan sasaran? Bisa jadi nada SMS punya kesan memaksa, terlalu mendadak, atau yang lain.. yang membuat si penerima malah enggak respek.. Kan menyentuh hati juga dengan hati🙂
  4. Saat bertemu secara langsung lakukan tabayun atau konfirmasi. Tanyakan apa alasannya tidak membalas dan berikan solusi. Misal : Kalau nggak ada pulsa, diusahakan mengirim dari hape yang lain. Atau kalau males balas SMS, dijawab di FB atau Twitter gapapa, atau bikin SOP pembalasan SMS dan ditentukan iqob/denda bagi yang melanggar, hehe..

#Case ke-2

Pernah nggak sih, ketika ada instruksi atau undangan via SMS yang memerlukan konfirmasi, kita cuma menjawab, “maaf, enggak bisa, ada agenda lain.”. Wah, apa nggak ‘cegek’ yang ngirim SMS. Agenda lain yang dimaksud itu apa? Alasannya syar’i atau enggak? Dan seterusnya.

Padahal, konfirmasi bukan hanya sekadar pemberitahuan atau informasi kesediaan atau tidak kesediaan hadir, melainkan ada proses “perizinan” di sana. Apalagi jika SMS ini –seperti pada umumnya—antara qiyadah dengan jundinya ; penanggung jawab/pemimpin dengan para staffnya.

#Case 3

Pernah nggak mengalami masalah komunikasi antara laki-laki dan perempuan (tepatnya, baca : ikhwan dan akhwat). Gegara SUNGKAN, akhirnya diam seribu kata tanpa koordinasi, padahal kondisinya sudah urgent dan harus komunikasi, akhirnya yang ada masalah di dunia amanah malah kronis tak kunjung dituntaskan sampai ke akarnya. Padahal, antara ikhwan dan akhwat berkomunikasi hanya sebatas berta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan, tidak lebih. Jangan dipikir dengan diam seribu kata membuktikan bentuk “penjagaan” pergaulan.. Tentu perlu diingat juga, bahwa gak boleh kebablasan berlebihan dalam SMS, you know what I mean🙂

* * *

Begitulah, ada kalanya virus menyerang ukhuwah dalam bentuk sekecil apa pun. Maka, untuk menghindarinya, diperlukan kehati-hatian agar tidak menyenggol hal-hal yang rentan dan beresiko untuk menimbulkan bibit-bibit penyakit hati🙂. Terbawa suasana di fakultas sih, bahwa MENCEGAH itu sangat nice to do, not only nice to know, hehe..

Semoga Allah menjauhkan kita dari buruk sangka dan menjauhkan kita dari hal-hal yang bisa menimbulkan buruk sangka pada orang lain, aamiin..


15 responses to “Gumamku tentang SMS

  1. hahahaa

    ini mewakili sekali ,,

    hampir semuanya benar…

    Like

  2. nah, kalau yang ini saya sering ngelakuin case#2 , hehe
    ntar kalau dijelasin alesanya pke sms ndak bakal cukup :p
    bahkan saya lebih sering di telp sama yang jarkom kalo ndak bales smsnya😀

    kalo yang case#1
    terakhir ngalamin waktu sms dulu itu, sekarang mah jarang:mrgreen:

    Like

  3. Darmawan says:

    menunggu sms adalah salah satu bentuk ujian kesabaran #pengalaman

    Like

  4. hehehe….kampus banget yah?😀

    Like

  5. phiy says:

    kasus-kasus yang pasti ada di tiap LDK deh ini kayaknya😀 Apalagi klo yg ngirim lagi PMS, tambah ga bisa husnudzon😆

    Like

  6. alamendah says:

    Yang contoh pertama itu beberapa kali saya juga mengalami. Biasanya sih saya langsung telpon langsung aja.😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: