. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Senin yang Berbeda

on 5 June 2012

Kusambut senin dalam pekan ini dengan sangat hangat ^__^ Alhamdulillah, UAS telah usai dan artinya.. Kuliah semester 6 hampir usaii!! Kurang PKL saja. Kini ada libur 3 hari untuk mempersiapkan PKL.

Melewati hari Senin yang berbeda. Kenapa? Karena hari ini tidak ada praktikum dan kuliah? Hehe…

* * *

Karena lemas atau bagaimana, saya memutuskan untuk tidur siang sejenak. Dan ternyata kebablasan sampai pukul 12.43. Astaghfirullah! Kan ada agenda mempersiapkan interview untuk calon relawan di Rumah Bersalin Gratis (RBG) jam 13.00! Saya pun bersiap dan dengan terburu menghubungi Sukeng karena tadi sepeda motor saya dia pinjam.

“Buk, ayo ke rumah zakat. Pean di mana?”, tanyaku.

Ternyata Sukeng menelepon dengan nada tidak bergembira. Ada masalah yang gawat. Namun, bagaimana pun aku harus berusaha tetap ke RBG, pikirku. Karena saya yang request rapat jam 13.00 dari undangan semula pukul 15.00.

Membujuk-bujuk Dek Himma untuk memakai motornya sebentar ke kampus untuk menukar dengan motor saya. Weengg… Ternyata begitu sampai di kampus, Sukeng berada di tempat lain. Dan motor masih dipakai Mbak Yesika ke tempat sholat, entah di mana posisinya. Saya pun kembali ke kontrakan dengan pupus harapan. Sudah hampir jam dua siang! Lalu saya menerima SMS dari Sukeng bahwa dia telah sampai di kampus untuk bertukar motor, hiks saya terlanjur pulang ke kontrakan. Berulang kali saya mengirim SMS permohonan maaf pada bapak yang di RBG karena saya lagi-lagi tidak bisa menghadiri rapat, tak kunjung juga dibalas.

Ba’da sholat ashar, Sukeng datang menjemput ke kontrakan agar saya bisa melanjutkan agenda di kampus. Mengambil dagangan untuk IMSS dan berkumpul dengan saudari-saudari angkatan 2009 dan 2010 di area danau cinta kampus. Berbagi tiada rugi. Hingga maghrib menyapa kami dalam merdu adzan.. Subhanallah.. Di depan saudari-saudarinya, Sukeng bisa menyamarkan mendungnya hari ini, yassarallah.. Semoga Allah memudahkan urusan dan melimpahkan keberkahan-Nya.

“Yani udah nunggu kita di Nuza.”, kata Sukeng.

“Oke, sholat maghrib dulu di Safiza ya.”

Usai sholat maghrib kami menuju masjid Nuruzzaman di Kampus B UNAIR, kami datang disambut dengan adzan isya. Kasihan Yani (Saudari kami dari Teknik Perencanaan Wilayah dan Kota ITS) menunggu terlampau lama. Kami pun kan melaju menuju Mie Neraka, sebuah tempat makan yang dikelola oleh para ikhwan UNAIR. Menemani Yani yang udah lama penasaran dengan Mie Neraka.

Belum sampai seratus meter mengayuh motor..

“Kok kayaknya bocor ya..”

“Ban belakang! Bocor… Jangan-jangan digembosi gegara tadi parkir di luar?”, saya segaja parkir di luar karena berpikir harus segera keburu ditunggu Yani.

Sukeng menuntun motor dan saya mendorong dari belakang. Alhamdulillah, di dekat gerbang ada tambal ban. Bersama kami, ada pula 2 orang mas UNAIR yang digembosi, kami memompa massal.. “Udah sejak tadi ashar banyak yang mompa ke sini.”, kata bapak penambal ban.

Namun, ternyata punya saya tak hanya habis angin bannya, melainkan bocor ban dalam. Baiklah, sepeda ditinggal dahulu dan kami berlanjut ke Mie Neraka bonceng bertiga, sstt.. karena deket.

Di Mie Neraka saya memesan mie level 0, tanpa cabe.

“Jiaahhh.. Lha terus ngapain ke sini??”

“Kan cuma mau nemani Yani.. Aku gak berani pedes.”, kataku. Apalagi perut kosong begini..

“Aku juga deh Nisa, pesen yang level 1 aja.. 3 cabe.”, Yani kompak gak berani pedes seperti saya.

“Jiaahh.. Aku level 4 dehh.. 29 cabe.”, kata Sukeng.

Di meja sebelah ada adik-adik kelas kami yang memesan level 4,5,6, hingga 7. Level 7 itu 99 cabe!

Sesekali deh makan mie, saya kan termasuk jarang karena sebenarnya enggak begitu doyan, kecuali terdesak (seperti saat sahur pas gak punya makanan, atau momen begini). Usai makan, kami kembali ke tempat tambal ban.

Dan ternyata, ban dalam motor saya tidak bisa ditambal karena sobek sekitar 10 centi.

“Kalau beli, di gubeng airlangga gang 3 itu masuukk.. Terus cari orang yang namanya om marsel.”

“Yani, tunggu di sini gak papa?”, saya dan Sukeng langsung mencari-cari penjual ban dalam tersebut, sempat salah ketuk pintu ruah orang, lalu bertanya ke sana kemari, melewati jalanan-jalanan di gang 3, hingga dari seorang bapak yang berjualan di took, saya dapati bahwa seseorang bernama Om Marsel atau yang dikenal dengan nama Ambon tersebut sedang pulang ke Blitar. Akhirnya bapak di took tersebut memberikan alternative lain, yakni membeli ban dalam kalau nggak di dekat luar gang ya di Toko Nelo, ancer-ancer dari Srikana masih teruus aja. Usai beliau memberi tahu rute, kami pun cap cus mencari took tersebut.

Pamit lagi pada Yani, “Anti banyak tugas ukh? Gapapa ta nunggu lama?”, tanya kami khawatir karena ITS kan biasanya punya atmosfer kental akademis, hehe

“Hm.. Besok ada syuro sih, tapi gak papa kuliahnya siang kok. Cari dulu aja bannya..”

Saya dan Sukeng menyusuri Dharmawangsa, tak kunjung pula bertemu. Hingga kembali bertanya pada seorang bapak di warung penyet. Beliau memberi tahu kami tempat servis motor yang berbeda lagi. Fiuuhh..

“Tekan kene puter balik.. Terus ndek seberang dalan, sebelah kiri sana.. Ada servis motor yang buka sampai malam. Pokoknya nanti ada penyetan, alon-alon ae..”, saya dan bapak tersebut berbahasa campur-campur Jawa dan Indonesia, hehe.

Kami pun mencari lokasi tersebut. Lokasi tempat membeli ban yang ketiga!

“Penyet-penyetan mana sih? Gak ada…”

Saya bertanya pada penjual aki, jelas saja beliau tidak menjual ban dalam. Bapak penjual aki menunjukkan bahwa ada servis di dekat area sini, jalan pelan saja. Kalau tidak, ada coba beli di tempat sevis motor dekat daerah Jojoran (wow, calon tempat ke-empat yang akan kami jelajahi keberadaannya). Kami melaju agak gontai hingga kami kembali melewati gang 3, “Ini mah sampai udah balik lagi…”

“Coba tanya sama bapak tambal ban di depan, barang kali punya cadangan..”, kata saudariku tersebut.

“Biasanya kalau ban dalam mereka gak punya, jadi kudu beli dulu.. ”

“Dicoba dulu.. ya..”

Akhirnya, di dekat gang 2 Gubeng Airlangga, tidak jauh dari lokasi tambal ban pertama kali tadi.. (cuma terbentang jarak 50 meter mungkin dari posisi motor saya). Saya mencoba bertanya, dan jawabannya menggembirakan.

“Oh, mio ya! Ini ada, tinggal satu. Karena tadi ada orang yang beli tapi keliru..”

“Wah, iya, Pak! Ini untuk mio ya..”

Subhanallah.. Di antara yang tidak mungkin, atas kehendak Allah, semua bisa saja terjadi. Untukmu saudariku Sukeng yang hari ini ada deadline antara “bisa” dan “tidak”. Sungguh, hanya Allah yang bisa membolak-balikkan hati.. Hamasah! ^__^

* * *

Sambil mengganti ban dalam, saya, Sukeng, dan Yani duduk di atas terpal yang menutupi paving jalang. Ngobrol dengan bapak yang juga duduk di situ, saya diberi banyak tips dalam merawat mio, yang emang kudu telaten. Hehe..

Tak cukup sampai sini, ternyata saya dan Sukeng kembali bertualang mencari rumah Mas Musa di Kenjeran Indah untuk mengambil kasur gulung yang dipakai KKN saya dulu karena akan dipakai PKL esok.. Dan ternyata, sesampai di rumah Mas Musa tidak ada yang membukakan pintu, hiks..

Kami pulang, dan kututup Senin ini dengan banyak planning untuk Selasa dan Rabu… Bismillah.


17 responses to “Senin yang Berbeda

  1. aku mah pengen level yang 2 aja we lahh

    Like

  2. nice, makasih atas infonya .. salam kenal..

    Like

  3. langit11 says:

    baca serunya hari nisa wara-wiri kampus jadi kangen suasana kampus…🙂

    Like

  4. salam persahabatan slalu yaaa…:)

    Like

  5. phiy says:

    Udah selesai belom nis PKL-nya? PKL tu sebulanan ya?😀 Dulu di jurusanku ga ada PKL, cuma ada penelitian di luar yg waktunya paling lama 1-2 minggu. Jadi ga tau PKL kayak apa. Hehe

    Like

  6. haaiii sinna?? masih inget gak ma aku?? hehehe,.
    dulu kan masih SMA waktu aku mampir di blog ini, eh sekarang udah ngomongin PKL segala,. hehehe, waktu terasa cepat ya,.

    itu mie namanya serem banget sin, mie neraka,. ada levelnya pula,.😀

    Like

    • Nisa says:

      ingeeett dong😀, mas misbah.. temennya ndoro (fia).. Hehehe..

      Pean gimana kuliah matematikanya dah rampung?

      Iyaa mienya hororr.. hehe

      Like

      • hhahaha, belum mbak,. masih tersendat sama skripsi,. hehehe,.

        nama yg unik itu bisa lho menarik perhatian, hhaha, lha wong di deket rumah ku aja ada bakso namanya bakso brewok,.
        karna brewoknya justru jadinya laris,.

        Like

  7. hmm, itu perut gpp kn mknan cabe segitu banyak??

    Like

  8. nice…salam kenal slalu yaaa…:)

    Like

  9. Nisa says:

    jangan…! Pedeess😀

    Like

  10. jadi pengen nyoba juga yg level 7,, hihihihi

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: