. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

One Chance to Remember

on 24 December 2012

koranbyheart2

* * *

Ahad, 16 Desember 2012 lalu.. Kualami sebuah pengalaman sekali seumur hidup : Menjadi peserta MTQM UNAIR (Musabaqoh Tilawatil Quran Mahasiswa Universitas Airlangga) cabang hifdzil (hafalan) 1 juz, tepatnya saya pilih test juz 1. Seleksi MTQM ini dilakukan untuk mempersiapkan kafilah MTQ Nasional yang dihelat sekitar Bulan Juli 2013 kelak. Seleksi tingkat universitas ini berlangsung 2 tahun sekali, itulah kenapa saya bilang “pengalaman sekali seumur hidup” karena pada tahun kedua kuliah dulu saya tidak ikut, dan pada tahun ke-4 kuliah ini lah saya baru mendaftar.

Setahu saya, hampir semua peserta seleksi adalah lulusan-lulusan pondok yang telah ditempa dan dilatih cukup lama di pesantren saat masih sekolah dahulu. Mereka orang-orang dengan pengalaman yang telah teruji. Sedangkan saya? Saya tidak pernah ngaji di pondok dan ini baru pengalaman pertama saya… Sebelumnya pun tak ada persiapan khusus, hanya pada H min 1 lomba, saya dan Ukh Vita (peserta seleksi juga yang tinggal satu kontrakan dengan saya) muroja’ah bersama dan berlatih dengan bergantian membacakan ayat dan yang lain melanjutkan. Berkas-berkas administrasi persyaratan saja baru kami siapkan saat hari H (print formulir pendaftaran dan foto), itu pun baru saya lengkapi dengan foto kopi KTM saat menjelang penutupan:mrgreen:.

Saya mengikuti seleksi ini sebagai sarana untuk berlomba dalam kebaikan. Mengingat motivasi saya yang masih belum stabil karena kerap lalai dan bermalasan, apalagi pencapaian-pencapaian saya yang masih sangat jauh di bawah target. Artinya, saya memahami keunggulan teman-teman peserta yang lain dan berharap bisa terpacu untuk bisa menjadi sebaik mereka.

Usai pembukaan di Masjid Nuruzzaman UNAIR, peserta memasuki lokasi sesuai dengan cabang lomba masing-masing. Cabang hifdzil berlokasi di sebuah ruang kelas di FIB (Fakultas Ilmu Budaya). Sebelumnya saya kira test ini di ruangan yang sepi : hanya 1 peserta, panitia, dan dewan juri penguji. Rupanya tidak, karena semua peserta turut menyaksikan. Baik laki-laki maupun perempuan. Saya benar-benar tidak memahami medan. Astaghfirullah.. pakai MIC pula, saya semakin deg deg aan… [Oiya, saya tidak paham hukumnya, saat perempuan mengeraskan bacaan seperti ini, boleh atau tidak? Mohon penjelasan jika di antara teman-teman ada yang memahami].

Sistemnya, peserta memilih soal sesuai dengan juz yang dipilih, lalu juri membacakan potongan ayat, dan peserta melanjutkan. Beberapa peserta yang diuji sebelum saya, ada yang lancar, fasih, dan iramanya bagus. Ada juga yang kurang lancar. Ukh Vita juga sudah maju dan lancar, jayyid jiddan.

Hingga nama saya dipanggil.. “Khalifatun Nisa”. Soal juz 1 paket soal nomor 4. Kemudian saya pun duduk di kursi panas…

Soal pertama. Sebuah ayat yang sering dilafadzkan oleh Teh Ina saat sholat berjama’ah, hampir setiap hari saya muroja’ah, dan tentunya sudah kami hafal dalam keseharian. Namun, entah mengapa seperti blank dan saya melakukan kesalahan dalam melanjutkan potongan ayat. Dewan juri mengetuk mic tanda salah. Kucoba mengulang dan masih salah. Kuberdiam sejenak meng-komat-kamit tanpa suara dan saat itu saya merasa bisa menyelesaikan dengan benar. Namun, saat saya bacakan lagi dengan keras, kembali terjadi kesalahan. Akhirnya, juri memberi tahu suatu kata lanjutan dan alhamdulillah akhirnya saya bisa menuntaskan ayat ini. Astaghfirullah… Padahal ini ayat yang sudah sering… Apa yang terjadi?

Soal kedua. Alhamdulillah lancar.

Soal ketiga. LCD sempat error, menunggu sejenak.. Lalu dibacakan soal dan alhamdulillah lancar juga.

Saya pun beranjak dari kursi test sekaligus dari ruangan. Mencoba melapangkan hati dari terfikirnya kesalahan-kesalahan saya saat melanjutkan ayat pada soal pertama. Manusia hanya berusaha, Allah Yang Berkehendak.. Iya betul, laa haulaa wa laa quwwata illaa billaah… Manusia tempat salah dan lupa. [Tiba-tiba jadi teringat pada Djamil di film Koran by Heart]. Saya pun teringat bahwa pekan itu saya “bolos” dari setoran hafalan dan “dicari” sama ustadzah, sesaat sebelum nama saya dipanggil, saya telah berusaha mencari tahu nomor hape ustadzah untuk meminta maaf tetapi sayang tak ada yang punya nomor hape beliau. Teringat pula pada hal-hal lain dalam pekan itu, astaghfirullah… barangkali kemudahan itu tertutupi oleh masksiat-maksiat yang saya lakukan..

 Sorenya, kami mengikuti penutupan MTQM UNAIR di Masjid Nuruzzaman. Taujih disampaikan oleh seorang ustadz, bahwa kita harus berusaha mengamalkan al-quran. Jangan hanya melafalkan dan mengkajinya, tapi berusahalah mengamalkan. Mengamalkan untuk mendekatkan diri hamba pada Allah..

Alhamdulillah ‘alaa kulli haal.. InsyaAllah banyak pelajaran yang didapat dari hari ini. Semoga esok bisa menjadi lebih baik ^^

* * *

ps : gambar ilustrasi dari cover film Koran by Heart, judul pada tulisan ini “one chance to remember” juga tagline dari film Koran by Heart😀

//


4 responses to “One Chance to Remember

  1. Pakde Kaconk says:

    ini akhwat peserta daurah kehumasan malang itu kan?hehe
    jadi ingat pernah mewakili brawijaya di MTQ tingkat regional antar perguruan tinggi se jawa timurdi ITS untuk cabang hafalan juz 1 ..

    Like

  2. wah ntar kita ketemu di UI yah, insya allah ikut fahmil

    Like

  3. amzahro says:

    Koran by Heart, bikin meleleh..😥
    Salam kenal..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: