. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Cambuk Hati

on 13 July 2013

Bismillah..

al quran

Asrama PQA, 13/07/13. Diiringi senandung hujan yang mengalun di luar sana. Ba’da dzikir pagi di hari ramadhan ke-4 ini. Ustadzah hadir di tengah-tengah kami untuk menyampaikan beberapa nasihat. Ini adalah kali pertama ustadzah menyampaikan evaluasi di tengah forum seperti ini. Mungkin karena kesalahan kami sudah semakin besar… Setelah teguran-teguran yang belum juga mempan…

Ustadzah mengawali dengan ayat Al-Quran..

QS. Al-A’raf: 204 “Dan apabila dibacakan al-Qur’an, maka dengarkanlah (baik-baik) dan diamlah (memperhatikan) dengan tenang agar kamu sekalian dirahmati.”

dan QS. Luqman : 33 “Hai manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu dan takutilah suatu hari yang (pada hari itu) seorang bapak tidak dapat menolong anaknya dan seorang anak tidak dapat (pula) menolong bapaknya sedikitpun. Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”

Kemudian ustadzah bercerita tentang seorang hamba sholih yang mendapat seruan dari Allah untuk masuk surga karena rahmat Allah. Namun, hamba tersebut merasa bahwa ia masuk surga adalah karena amalnya. Lalu Allah menunjukkan bahwa seluruh amal sholih tersebut tidak akan dapat menebus salah satu saja bola mata sebagai nikmat yang telah diberikan oleh Allah. Subhanallah.. padahal dia adalah seorang yang banyak beramal sholih, bagaimana dengan kita? yang sholat saja masih sekadar menuntaskan kewajiban, yang belum bisa khusyuk dari awal hingga akhir salam,,

Amal masih sangat sedikit sedang dosa menggunung.

Maka, kunci masuk surga adalah rahmat dari Allah.. dan salah satu cara untuk memperoleh rahmat dari Allah adalah dengan memperhatikan dan mendengarkan bacaan Al-Quran. Apalagi membaca dan menghafalnya..

“Kemarin sore di Asy-Syifa, saat saya sedang menyimak hafalan Mbak Nastiti, dari kejauhan saya melihat ada seorang mbak yang berjalan tertatih-tatih menuju masjid. Saat hendak naik ke dalam masjid, kan agak tinggi, dia begitu kesulitan, tapi terus mencoba dengan bersabar. Akhirnya mbak tersebut mencari permukaan lantai yang lebih rendah agar mudah dilalui. Kemudian berhasil dan dia menuju kelas tahsin.”, ustadzah bercerita.. kami mulai tersindir.

“Lalu ke mana mbak-mbak PQA? Tak ada satu pun yang datang. Padahal mbak-mbak ini sudah diberi nikmat yang begitu besar oleh Allah. Diberi fisik yang sempurna, biaya kuliah dapat beasiswa, untuk program mengaji sudah mendapat dana.. Bagaimana wujud rasa syukur kita?”

Terlalu banyak alasan untuk bolos setoran hafalan. Rintik air mata kini turut mengiringi rintik hujan.😦

“Kalau bilang sibuk, ya semua juga sibuk. Saya bekerja mulai jam enam pagi hingga jam empat sore.. Tapi bagaimana pun, sebisa mungkin saya luangkan. Minimal 5 juz murojaah per hari.”, kata ustadzah. “Lalu sepulang kerja saya juga ada tugas-tugas.. Sama saja, Mbak..”. Tinggal bagaimana meluangkan waktu.

“Dan kesungguhannya mbak-mbak lah yang mungkin masih kurang… Luangkanlah, minimal satu jam saja sehari. Kalau makan saja tidak pernah ketinggalan, tidur juga tidak ketinggalan, facebook an saja masih bisa, masa menghafal Al Quran tidak sempat? Seperti status Mbak Halimah tempo hari, kunci menghafal Al Quran adalah sabar dan mujahadah.”

Kemudian ustadzah bertanya tentang kendala kami, satu per satu dari kami memaparkan. Beliau juga memberi saran atau solusi untuk tiap kesulitan. Ada yang memang malas, ada yang beralasan sibuk kerja, skripsi, sering pulang kampung, dan sebagainya. Padahal, kata ustadzah.. “Janganlah mengkhawatirkan perkara dunia. Ketika mengawali semua urusan dunia dengan membaca Al-Quran, Allah pasti akan memberi kemudahan.” :’)

“Jangan karena belum siap munaqosah lalu malah berhenti ngaji.”

“Jangan karena belum siap setoran hafalan lalu bolos dari jadwal. Ndak papa, tetaplah hadir dan memurojaah. Iya, murojaah itu wajib dan nggak boleh terlewatkan. Hafalan yang sudah dipunya harus terus dijaga, sampai mati.”

Pada pertengahan bulan Juni lalu ustadzah memperoleh Umroh Gratis. Yaitu umroh penghafal Al-Quran bersama tim PPPA Daarul Qur’an (program tahfidznya Ust. Yusuf Mansyur). Kata ustadzah, “Mendapat kesempatan umroh kemarin tentu karena rahmat Allah. Saya berpikir, bahwa Allah memberikan nikmat tersebut bukanlah tanpa sebab. Mungkin, sebabnya adalah karena saya menyimak mbak-mbak PQA ini dengan sungguh-sungguh.” (sebagaimana firman Allah QS. Al-A’raf 204 di awal)

😥 MasyaAllah…

“Pernahkah saya mengantuk saat menyimak hafalan mbak-mbak?”, tanya ustadzah. Kami serentak menggelengkan kepala.

“Saya pun selalu disiplin. Kalau mbak-mbak mau ngaji atau murojaah saya siap melayani 24 jam. Setor hafalan satu ayat pun saya siap menyimak.”, ustadzah tetap berkata-kata dengan tenang.

Ah, saya semakin tersindir. Ustadzah selalu hadir di awal waktu, menunggu kami yang kerap masih belepotan menyiapkan setoran. Belum lancar. Beliau tetap sabar.. Bahkan suatu hari saya mengetahui bahwa ustadzah berat untuk pergi ke luar kota tuk sekadar berlibur, berat karena memikirkan bagaimana setoran hafalan kami. Sementara “mbak-mbak” yang dipikirkan malah tidak merasa dan kadang kabur menghindari jadwal setoran.

Hujan telah reda. Barangkali ada pelangi yang melingkupi hati-hati kami pagi ini. Setelah mendapatkan cambuk, semoga perbaikan itu benar-benar maksimal bisa diwujudkan. Biidznillah.. Bismillah..

*judul “Cambuk Hati” meminjam sebuah judul buku yang dulu pernah ingin saya beli di pameran, tapi nggak jadi beli..


17 responses to “Cambuk Hati

  1. […] keperluan wira-wirinya, fiuhh.. tapi akhirnya kekeuh boyongan juga ^^.. Saya bersama seorang adik PQA (Dek Aim) fix ikut pesantren […]

    Like

  2. Mumun says:

    hiks… aku terharu :’), benar-benar cambuk hati, terima kasih Nisa ^^

    Like

  3. harumhutan says:

    cambuk hati..

    memang hati itu harus terus dicambuk yah dek biar kuat dan terus ingat ka allah..

    hemmm.. aku aja masih belum hafal hafal juga *harus dicambuk lagi nih hati aku..

    Like

  4. semoga ini menjadi cambuk ndak saja buat penulis, tetapi juga buat pembacanya.

    Like

  5. LJ says:

    Nisa pasti sudah di malang, nih..
    sibuk nyiapin masakan buat besok.😛

    selamat idul fitri buat Nisa sekeluarga,
    mohon maaf lahir dan batin.

    #bundo tunggu cerita nisa selanjutnya.. tentang apa ajah..!

    Like

    • Nisa says:

      hehe.. kalau bundo pasti di bukittinggi yaa?

      ^__^ mohon maaf lahir dan batin juga ya, bundo…

      #nunggu cerita bundo juga,, masih gak nyangka kalau ini bundo udah kembali🙂

      Like

  6. helgaindra says:

    aku juga mau hafalan juga ah
    *niat yang gak pernah terealisasikan..

    Like

  7. Kalo model setoran jadi lebih terpacu ya

    Like

    • Nisa says:

      betul sekali ^_^ karena ada target yang harus ditunaikan.. bagi kami yang baru pemula ini,, lebih baik “dipaksa” melakukan kebaikan agar nanti “terbiasa” dengan sendirinya, bahkan jadi “kebutuhan” daripada dibiarkan longgar tanpa kedisplinan.. hehe..

      Like

  8. seingat saya, judulnya sudah pernah dipakai😀
    postingan 2 atau 3 tahun lalu klo gak salah

    enak ya Liqo’ nya bisa rutin😀
    Semangka ~~~ !

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: