. . . menCOBA menCARI deDAUNan yang berSERAKan . . .

… tempatku belajar banyak hal …

Semangat, Ichan ^_^/

on 12 January 2014

Siang itu saya mempromosikan Pondok Daarul Ukhuwwah di Pakis Kabupaten Malang pada adek saya yang kini telah menginjak kelas 5 SD, “Untuk masuk SMP nya minimal harus hafal 1 juz, Chan..”. Adek sepupunya Jega di situ, bagus bla bla bla…

Disambut ibu yang ternyata lebih setuju dengan pondok atau MTs dekat rumah. Ditambah Ichan yang dengan nada minder seperti mau putus asa bilang “tapi Ichan gak bisa ngomong rrrr”.

“Bisa gitu lho”

“Gak bisaa, rrr… Kata temen-temennya Ichan, Ichan gak bisa ngomong rrr”

“Lha memang siapa bilang ada persyaratan harus bisa bilang R?”, batin saya.

“Chan,, anak yang matanya ndak bisa melihat lho bisa menghafal al-quran.. bla bla bla”, saya pun bercerita pada Ichan dan Bapak. Sebagaimana yang pernah saya post di TL FB :

Seorang adik berusia 12 tahun berjalan dengan hati-hati menuju ke atas panggung dengan dibantu oleh seseorang lagi yang lebih tua. Setelah duduk tenang,, dengan suara merdu, suasana haru, juga bacaan yang fasih dan lancar, ia melantunkan sebagian dari hafalan Al-Qurannya. Ternyata adik ini sudah hafal 19 Juz.. Hadirin semakin tak bisa membendung air matanya, ternyata adik yang sholih ini -secara fisik- tidak bisa melihat… Adik yang tegar, adik yang luar biasa!

Saya amat penasaran bagaimana cara orang tuanya mendidik. Sungguh, seperti inilah sosok anak muslim..

Lalu di lain kesempatan, saya mendapat informasi bahwa ayah dari adik tersebut adalah seorang hafidh yang juga -secara fisik- tidak bisa melihat. Adik tersebut menghafal dengan metode talqin bersama ibunya..

“mereka telah melihat betapa besar nikmat dan karunia yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada hamba-Nya..”

#CatatanRamadhanyangTerserak

* * *

Selepas sholat maghrib di mushola dekat rumah, Ichan langsung memanggil-manggil saya, “Mbak Anis… Mbak Anis… Katanya ngaji…”

Iyap. Ichan ingat dengan janjinya tadi mau hafalan!

Saya mendampingi Ichan menghafal QS. Ath-Thoriq petang itu. Dulu Ichan pernah bilang bahwa saya serem kalau ngajar, seperti guru di TPA nya dulu, kalau salah disuruh mengulang-ulang terus.

“Ma nya kurang panjang”

“Dengungnya kurang”

Saya mengajarkan sistem buka tutup pada Ichan. Mengoreksi tajwid sambil memberikan contoh.

Setelah mengaji, Ichan mengerjakan PR. Lagi-lagi ada nada sedih…

“Kata temen-temennya Ichan, tulisannya Ichan lho jelek…”

Fiuh, padahal sudah beberapa semester ini dia bertahan jadi jawara rangking 1 di kelas, masih ajaaa…

Omongan teman-teman di sekolah ternyata sangat masuk ke dalam hatinya.. Pada beberapa kasus lain (selain ngomong R dan tulisan) juga ternyata seperti itu. Potensinya besar, tapi akhirnya kadang dia bilang, “tapi Ichan gak bisa…” “itu sulit…” dengan wajah memelas.

Waduh… Tetap semangat Ichan.. Allah Yang Memberi kemudahan. Semoga kita –Kak Anas, Mbak Anis, dan Ihsan—diberi kemudahan oleh Allah dalam menuntut ilmu ya, moga kita jadi anak-anak sholih/ah yang berbakti kepada kedua orang tua ^__^

InsyaAllah, pasti bisa, Chan!


6 responses to “Semangat, Ichan ^_^/

  1. eeh kok diceritakan sih aku malu kan itu rahasiaku,,,,,jadi banyak yang coment deeh

    Like

  2. sunarno2010 says:

    teringat pada anakku, gampang-gampang susah untuk istiqomah menghafal, apalagi kalau salah sedikit saja kadang ngambek

    Like

  3. Wah… Ichan korban bully teman-temannya tuh….

    Like

    • Nisa says:

      lya mbak,, keluarga yg di rumah kudu banyak2 menetralisirnya dengan super motivasi🙂

      moga tahun depan bisa dapat lingkungan belajar yang lebih kondusif,,

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: